Hiruk pikuk dan gembar gembor "Pembangunan Karakter Bangsa ", mengingatkan kita kepada arti sebuah SUKSES.
Sudah lumrah umumnya orang kagum kepada orang orang "SUKSES", yang kriterianya dipatok oleh masyarakat sendiri : Terkenal, berharta, berkedudukan, bergelar, berpangkat, ganteng, cantik.
Maka, berlomba lombalah orang berburu "KESUKSESAN" dengan berbagai cara, tak peduli dengan "potensi" dan tak hirau dengan "cara"
Wajah dan body di permak habis, gelar diburu dengan bayaran, pangkat dan kedudukan diraih dengan sikut menyikut, harta diraih dengan cara cara yang menghinakan.
Astaghfirullahaladziim.
Sepertinya, generasi muda juga tak diberi keteladanan dalam sikap dan perbuatan.
Bahkan, mereka didorong untuk meraih "kesuksesan " dengan cara apapun.
"Rangking berapa Nak?"< adalah pertanyaan umum yang dilontarkan orang dewasa kepada anak anak yang baru dibagi Rapor.
Otomatis, anak akan menganggap Ranking itu amat sangat penting, dan mereka berlomba meraihnya dengan cara apapun, menyontek menjadi kebiasaan yang tak pernah "diluruskan"
Karena baik orang tua maupun pihak sekolah "bangga" dengan nilai hasil akhir, bukan proses pencapaiannya.
Tak heran, menyontek, sikut sikutan, korupsi, menjadi sulit diberantas, karena memang kita, masyarakat jugalah yang "salah " mengapresiasi seseorang.
SUKSES yang sesungguhnya, sangat erat kaitannya dengan "VALUE", dengan arti sebuah "NILAI", ialah Nilai Nilai Kehidupan, bagaimana kita menjalankan amanah Allah sebagai ummatNYA, ialah berkhidmat kepada mahluk mahlukNYA.
Kalau kita tak ingin bangsa ini terjerumus, terperosok makin dalam kejurang kegagalan, sudah selayaknya kita semua, ya, kita semua tidak silau oleh "SUKSES PALSU" yang ditampilkan oleh mereka yang justru merusak "Nilai Nilai Kehidupan".
Ganteng, cantik, beken, bergelar, berharta, berpangkat, berkedudukan, tapi nggak BENER dan nggak BAGEUR.
Jadi, masih mau nanya : "Ranking berapa kamu Nak ?"
Tuesday, January 25, 2011
Saturday, January 22, 2011
KEMAJUAN TEKNOLOGI, MENDEKATKAN YANG JAUH, MENJAUHKAN YANG DEKAT
Apa dampak kemajuan teknologi?
Yang positif sih banyak.
Disamping menambah wawasan, mau bertanya apa saja juga tersedia, sumber informasi yang cepat tepat akurat, juga bisa bertemu kembali dengan teman teman lama, bisa berkomunikasi dengan yang jauh, bahkan bisa ber "SKYPE" ria, sambil menatap lawan bicara kita di layar komputer.
Luar biasa.
Dampak negatifnya?
Wah, banyak juga koq.
Selain makin maraknya pornografi, tak adanya privacy , segala hal tentang kita bisa di obok obok oom Google kan ? juga makin jauhnya hubungan silaturahmi orang orang yang dekat dengan kita.
Banyak yang keranjingan game game, hingga lupa waktu, lupa kewajiban, berkutat terus di meja komputer.
Banyak juga yang tergila gila chattingan, walau lawan komunikasi tidak dikenalnya sekalipun, tersita waktu karena asyik bermain Face book, dll, dlsb
Suami terabaikan, istri terkucilkan, bahkan anak kena bentakan karena dianggap mengganggu keasyikan.
Arrrrrrgh....koq jadi begini ya
Yang jauh jadi terasa dekat, tapi yang dekat koq jadi semakin jauh ?
Sering tampak di status FB, seorang ibu berkomunikasi dengan anaknya justru lewat status FB, padahal anaknya ada dikamar lain, masih dirumah yang sama :
" Nak, mandi dulu !"
" Nak, ayo siap siap kita berangkat!"
" Nak,sudah siap belum, kita berangkat sekarang!"
Sighhhhhhhh......
Hayo...siapa yang begitu tuh ?
Yang positif sih banyak.
Disamping menambah wawasan, mau bertanya apa saja juga tersedia, sumber informasi yang cepat tepat akurat, juga bisa bertemu kembali dengan teman teman lama, bisa berkomunikasi dengan yang jauh, bahkan bisa ber "SKYPE" ria, sambil menatap lawan bicara kita di layar komputer.
Luar biasa.
Dampak negatifnya?
Wah, banyak juga koq.
Selain makin maraknya pornografi, tak adanya privacy , segala hal tentang kita bisa di obok obok oom Google kan ? juga makin jauhnya hubungan silaturahmi orang orang yang dekat dengan kita.
Banyak yang keranjingan game game, hingga lupa waktu, lupa kewajiban, berkutat terus di meja komputer.
Banyak juga yang tergila gila chattingan, walau lawan komunikasi tidak dikenalnya sekalipun, tersita waktu karena asyik bermain Face book, dll, dlsb
Suami terabaikan, istri terkucilkan, bahkan anak kena bentakan karena dianggap mengganggu keasyikan.
Arrrrrrgh....koq jadi begini ya
Yang jauh jadi terasa dekat, tapi yang dekat koq jadi semakin jauh ?
Sering tampak di status FB, seorang ibu berkomunikasi dengan anaknya justru lewat status FB, padahal anaknya ada dikamar lain, masih dirumah yang sama :
" Nak, mandi dulu !"
" Nak, ayo siap siap kita berangkat!"
" Nak,sudah siap belum, kita berangkat sekarang!"
Sighhhhhhhh......
Hayo...siapa yang begitu tuh ?
Subscribe to:
Posts (Atom)