Ada yang bagus dari Dr.Sam Askari Soemadipradja :
You Are
You are strong... when you take your grief and teach it to smile.
You are brave... when you overcome your fear and help others to do the same.
You are happy... when you see a flower and are thankful for the blessing.
You are loving... when your own pain does not blind you to the pain of others.
You are wise... when you know the limits of your wisdom.
You are true... when you admit there are times you fool yourself.
You are alive... when tomorrow's hope means more to you than yesterday's mistake.
You are growing... when you know what you are but not what you will become.
You are free... when you are in control of yourself and do not wish to control others.
You are honorable... when you find your honor is to honor others.
You are generous... when you can take as sweetly as you can give.
You are humble... when you do not know how humble you are.
You are thoughtful... when you see me just as I am and treat me just as you are.
You are merciful... when you forgive in others the faults you condemn in yourself.
You are beautiful... when you don't need a mirror to tell you.
You are rich... when you never need more than what you have.
You are you... when you are at peace with who you are not
Monday, October 25, 2010
Thursday, June 17, 2010
AIB
AIB ?
iya AIB. Seminggu ini kan beritanya panas melulu.
Tentang AIB, AIB seseorang..
Dimana mana, media elektronik, kalau ganti channel, pasti nongol lagi tuh berita tentang AIB.
Ada yang dikupas habis sejam penuh. Ada "ahlinya" yang dengan berbinar binar menguraikan "ilmunya" tentang keaslian apa yang sedang diperbincangkan.
Semua bicara tentang AIB, diumbar, entah dibumbui atau tidak
Di media cetak, sama saja.
Gambar besar besar blak blakan dihalaman utama , copyan dari "video", katanya, terpampang jelas dan menyita perhatian, beredar di perempatan jalan, di lampu stopan, di bis, angkot, kereta api, dll, dlsb.
Konon, di HP juga begitu.
Saling tukar gambar, dibuka, ditonton beramai ramai.
Menertawakan, mencaci maki, menghina dina, mengutuk, menyumpah serapah, dll, dlsb
Mengutuk tapi sambil matanya berseri seri menonton sampai habis tayangan yang dipertontonkan.
Menyumpah serapah, mengucap istighfar, tapi sambil terus menyaksikan tayangan.
Ini jaman apa sih ?
Dualisme banget.
Munafik.
Katanya dosa, tapi ditonton, dinikmati malah.
Ada yang menjual, ada yang membeli.
Ada yang mengumpat sambil mengambil untung.
Ada yang mencari nafkah sampai larut malam mengejar sumber berita, hanya untuk menyebarkan AIB.
Astaghfirullahaladziim.
kasihan keluarganya, diberi nafkah dari upah menyebarkan AIB orang lain. Sungguh kasihan
Yang menonton tayangan, yang membaca berita, yang melihat rekaman, semakin hari semakin menggila.
Yang munafik semakin banyak pula.
Kalau nggak sepakat, ya jangan ditonton, pindah channel.
Kalau itu dianggap perbuatan nista, ya jangan minta dikirim rekamannya dong.
Kalau berpendapat yang melakukannya dosa, yang menyebarkannya dosa, ya jangan ikutan nonton dong..
Kita, suka sibuk menuding, menghakimi, menghina dina, menistakan seseorang yang kita "anggap" berdosa.
Dan tanpa kita sadar, kita juga terhanyut dosa dengan menonton, mengupas tuntas, membicarakan hal hal yang kita anggap "menghinakan diri sendiri" tersebut.
Dosa perbuatan seseorang,hanyalah Allah Yang Maha tahu.
Biarlah Allah yang mengurus dan menghukumnya.
Kita, nggak punya urusan dengan memperbincangkannya, mengupas tuntasnya, menghakiminya, menghina dinakannya, menistakannya.
Kita alpa, bahwa kita punya kewajiban berhubungan dengan Allah dan berhubungan dengan mahlukNya.
jelas, sebagian besar kita, saat ini makin nyata nyata "terlihat" cukup aktif "mendekatkan diri" kepada Allah.
Kita melihat jelas, banyak yang berupaya keras "mengumpulkan poin demi poin " pahala kebaikan beribadah kepada Allah.
Masjid penuh, pengajian dimana mana, bimbingan baca Al Quran tersebar diseluruh pelosok.
Sejak pagi buta tayangan bimbingan agama sudah marak disemua channel TV atau diberbagai pemancar radio, apalagi di masjid masjid, surau, mushala..
Acara apapun, tak luput ada tausyiah, ada pengajian.
Hubungan dengan Allah semakin "mesra"", tampaknya.
Lantas, bagaimana hubungan dengan mahlukNya?
Ini yang aneh.
Kalau hubungan dengan Allah semakin marak, lho...logikanya kan hubungan dengan mahlukNya juga semakin meningkat kuantitas dan kualitasnya.
Bukan begitu ?
Mengurus, merawat, menghormati, memelihara, memuliakan mahluk mahlukNya juga kan pada dasarnya menjalankan perintahNya, memuliakanNya, bukan begitu?
Berkhidmat kepada mahlukNya, bukankah berarti berkhidmat juga kepadaNya?
Kita lupa, lalai, alpa,
Mahluk mahlukNya terabaikan, bahkan diabaikan, bahkan dihina dinakan, dinihilkan, dinistakan.
Kita merasa paling mulia, paling berahlak, paling nomor satu ahli surga, sehingga berani beraninya menistakan mahlukNya.
Bukankah kalau seseorang berbuat salah, adalah kewajiban kita merangkulnya, mengajaknya dengan penuh kelembutan dan kecintaan, memberinya penjelasan dengan arif bijaksana, agar yang tidak tahu menjadi tahu? Agar yang tidak paham menjadi paham? Agar yang tidak mengerti menjadi mengerti?
Bukankah kita "diwajibkan" bersikap santun, lembut, penuh kasih sayang kepada siapapun ?
Bukankah yang tahu dosa dan tidak itu hanyalah Allah semata?
Jangan jangan, kita yang sok mulia, yang sok paling disayang Allah, yang sok ahli surga, malah niat kita sebenernya nggak tulus ikhlas.
Dan siapakah yang tahu niat seseorang? Bukankah hanya Allah semata ?
Katakanlah si A,B,C,D yang konon berbuat AIB, benar berbuat AIB.
Pantas dan layakkah kita mencaci maki, menistakan, menghina dina ?
Yang berbuat dosa tokh mereka, dan dalam masyarakat ada kelompok yang berkewajiban menyelesaikannya, jika itu dianggap melanggar hukum.
Bukan kita, yang malah sibuk bergunjing, ghibah dan bahkan fitnah.
Kita bahkan wajib merangkulnya dengan santun, memberi pemahaman dan pengertian agar mereka paham dan mengerti, sehingga selanjutnya terhindar dari perbuatan yang tercela.
Apa yang kita lihat , yang terjadi dalam masyarakat kita saat ini ?
Yang denger sepotong sepotong, yang menonton tayangannya, lantas menghina dina si pembuat AIB , apakah kita berahlak mulia?
Miris rasanya, melihat orang lain yang kita anggap "kurang mendekat kepada Allah", tapi berbuat banyak untuk mahluk mahlukNya.
Dan lebih miris rasanya, melihat mereka "yang konon katanya lebih punya hubungan dengan Allah", malah menistakan mahlukNya.
Astaghfirullahaladziim
Kita ingin negara kita yang kaya raya, subur makmur ini bisa memberi kesejahteraan yang memuliakan bagi segenap bangsanya, seluruh rakyatnya.
Dan untuk itu, kita semua punya kewajiban bersama untuk berkhidmat kepada mahluk mahlukNya.
Semoga, dari setiap kejadian perkara, kita diberi hidayah, untuk memahami kehidupan yang hanya sekejap saja. Kita bisa memetik hikmahnya, menjadi mahlukNya yang lebih baik, lebih baik dan lebih baik lagi.
Petatah petitih orang tua tentang berita sih kan jelas, kalau ada berita, ya kita teliti dulu kebenarannya, isi beritanya dan manfaatnya.
Kalau beritanya cuma "katanya", lantas tentang keburukan seseorang dan nggak ada manfaatnya pula buat kita, ya jangan buang waktu buat dengerin berita tersebut, apalagi menontonnya.
AIB ?
Ya jangan ditonton atau diperbincangkan.
Jangan menyulut dosa berjamaah karena ghibah atau fitnah.
iya AIB. Seminggu ini kan beritanya panas melulu.
Tentang AIB, AIB seseorang..
Dimana mana, media elektronik, kalau ganti channel, pasti nongol lagi tuh berita tentang AIB.
Ada yang dikupas habis sejam penuh. Ada "ahlinya" yang dengan berbinar binar menguraikan "ilmunya" tentang keaslian apa yang sedang diperbincangkan.
Semua bicara tentang AIB, diumbar, entah dibumbui atau tidak
Di media cetak, sama saja.
Gambar besar besar blak blakan dihalaman utama , copyan dari "video", katanya, terpampang jelas dan menyita perhatian, beredar di perempatan jalan, di lampu stopan, di bis, angkot, kereta api, dll, dlsb.
Konon, di HP juga begitu.
Saling tukar gambar, dibuka, ditonton beramai ramai.
Menertawakan, mencaci maki, menghina dina, mengutuk, menyumpah serapah, dll, dlsb
Mengutuk tapi sambil matanya berseri seri menonton sampai habis tayangan yang dipertontonkan.
Menyumpah serapah, mengucap istighfar, tapi sambil terus menyaksikan tayangan.
Ini jaman apa sih ?
Dualisme banget.
Munafik.
Katanya dosa, tapi ditonton, dinikmati malah.
Ada yang menjual, ada yang membeli.
Ada yang mengumpat sambil mengambil untung.
Ada yang mencari nafkah sampai larut malam mengejar sumber berita, hanya untuk menyebarkan AIB.
Astaghfirullahaladziim.
kasihan keluarganya, diberi nafkah dari upah menyebarkan AIB orang lain. Sungguh kasihan
Yang menonton tayangan, yang membaca berita, yang melihat rekaman, semakin hari semakin menggila.
Yang munafik semakin banyak pula.
Kalau nggak sepakat, ya jangan ditonton, pindah channel.
Kalau itu dianggap perbuatan nista, ya jangan minta dikirim rekamannya dong.
Kalau berpendapat yang melakukannya dosa, yang menyebarkannya dosa, ya jangan ikutan nonton dong..
Kita, suka sibuk menuding, menghakimi, menghina dina, menistakan seseorang yang kita "anggap" berdosa.
Dan tanpa kita sadar, kita juga terhanyut dosa dengan menonton, mengupas tuntas, membicarakan hal hal yang kita anggap "menghinakan diri sendiri" tersebut.
Dosa perbuatan seseorang,hanyalah Allah Yang Maha tahu.
Biarlah Allah yang mengurus dan menghukumnya.
Kita, nggak punya urusan dengan memperbincangkannya, mengupas tuntasnya, menghakiminya, menghina dinakannya, menistakannya.
Kita alpa, bahwa kita punya kewajiban berhubungan dengan Allah dan berhubungan dengan mahlukNya.
jelas, sebagian besar kita, saat ini makin nyata nyata "terlihat" cukup aktif "mendekatkan diri" kepada Allah.
Kita melihat jelas, banyak yang berupaya keras "mengumpulkan poin demi poin " pahala kebaikan beribadah kepada Allah.
Masjid penuh, pengajian dimana mana, bimbingan baca Al Quran tersebar diseluruh pelosok.
Sejak pagi buta tayangan bimbingan agama sudah marak disemua channel TV atau diberbagai pemancar radio, apalagi di masjid masjid, surau, mushala..
Acara apapun, tak luput ada tausyiah, ada pengajian.
Hubungan dengan Allah semakin "mesra"", tampaknya.
Lantas, bagaimana hubungan dengan mahlukNya?
Ini yang aneh.
Kalau hubungan dengan Allah semakin marak, lho...logikanya kan hubungan dengan mahlukNya juga semakin meningkat kuantitas dan kualitasnya.
Bukan begitu ?
Mengurus, merawat, menghormati, memelihara, memuliakan mahluk mahlukNya juga kan pada dasarnya menjalankan perintahNya, memuliakanNya, bukan begitu?
Berkhidmat kepada mahlukNya, bukankah berarti berkhidmat juga kepadaNya?
Kita lupa, lalai, alpa,
Mahluk mahlukNya terabaikan, bahkan diabaikan, bahkan dihina dinakan, dinihilkan, dinistakan.
Kita merasa paling mulia, paling berahlak, paling nomor satu ahli surga, sehingga berani beraninya menistakan mahlukNya.
Bukankah kalau seseorang berbuat salah, adalah kewajiban kita merangkulnya, mengajaknya dengan penuh kelembutan dan kecintaan, memberinya penjelasan dengan arif bijaksana, agar yang tidak tahu menjadi tahu? Agar yang tidak paham menjadi paham? Agar yang tidak mengerti menjadi mengerti?
Bukankah kita "diwajibkan" bersikap santun, lembut, penuh kasih sayang kepada siapapun ?
Bukankah yang tahu dosa dan tidak itu hanyalah Allah semata?
Jangan jangan, kita yang sok mulia, yang sok paling disayang Allah, yang sok ahli surga, malah niat kita sebenernya nggak tulus ikhlas.
Dan siapakah yang tahu niat seseorang? Bukankah hanya Allah semata ?
Katakanlah si A,B,C,D yang konon berbuat AIB, benar berbuat AIB.
Pantas dan layakkah kita mencaci maki, menistakan, menghina dina ?
Yang berbuat dosa tokh mereka, dan dalam masyarakat ada kelompok yang berkewajiban menyelesaikannya, jika itu dianggap melanggar hukum.
Bukan kita, yang malah sibuk bergunjing, ghibah dan bahkan fitnah.
Kita bahkan wajib merangkulnya dengan santun, memberi pemahaman dan pengertian agar mereka paham dan mengerti, sehingga selanjutnya terhindar dari perbuatan yang tercela.
Apa yang kita lihat , yang terjadi dalam masyarakat kita saat ini ?
Yang denger sepotong sepotong, yang menonton tayangannya, lantas menghina dina si pembuat AIB , apakah kita berahlak mulia?
Miris rasanya, melihat orang lain yang kita anggap "kurang mendekat kepada Allah", tapi berbuat banyak untuk mahluk mahlukNya.
Dan lebih miris rasanya, melihat mereka "yang konon katanya lebih punya hubungan dengan Allah", malah menistakan mahlukNya.
Astaghfirullahaladziim
Kita ingin negara kita yang kaya raya, subur makmur ini bisa memberi kesejahteraan yang memuliakan bagi segenap bangsanya, seluruh rakyatnya.
Dan untuk itu, kita semua punya kewajiban bersama untuk berkhidmat kepada mahluk mahlukNya.
Semoga, dari setiap kejadian perkara, kita diberi hidayah, untuk memahami kehidupan yang hanya sekejap saja. Kita bisa memetik hikmahnya, menjadi mahlukNya yang lebih baik, lebih baik dan lebih baik lagi.
Petatah petitih orang tua tentang berita sih kan jelas, kalau ada berita, ya kita teliti dulu kebenarannya, isi beritanya dan manfaatnya.
Kalau beritanya cuma "katanya", lantas tentang keburukan seseorang dan nggak ada manfaatnya pula buat kita, ya jangan buang waktu buat dengerin berita tersebut, apalagi menontonnya.
AIB ?
Ya jangan ditonton atau diperbincangkan.
Jangan menyulut dosa berjamaah karena ghibah atau fitnah.
Subscribe to:
Posts (Atom)