Nyaris semua sepakat, penyebab utama ketertinggalan kita dari negara lain, bahkan dari negara tetangga sekalipun, ialah karakter bangsa kita sendiri.
Pembanguna tersendat, keadilan terpinggirkan, kesejahteraan lambat mendekat, kemuliaan sebagai bangsa tangguh mandiri yang bermartabat semakin sulit terjangkau.
Yang tampak keseharian adalah keberingasan, tawuran, adu mulut bahkan adu fisik, berebut tahta dan kekuasaan, dll, dlsb.
Bagaimana mungkin, bangsa yang dulu terkenal ramah tamah, sopan santun, beretika penuh unggah ungguh, tiba tiba seperti mahluk beringas yang siap menerkam mahluk lainnya?
Apakah mayoritas rakyat berwatak seperti yang dipertontonkan media elektronik sepanjang waktu?
Entah mengapa ya, media itu hobby banget menanyangkan demo, protes, tawuran, percekcokan , pertengkaran, adu mulut bahkan kekerasan fisik, dlsb.
Yang aneh sekaligus menggelikan, demo yang hanya dilakukan 10-20 orang saja diliput, seperti ratusan juta rakyat lainnya yang sedang sibuk bekerja nggak dianggap penting.
Karakter, yang konon terbentuk dari genetik, sifat yang diturunkan, kemudian dipoles oleh pendidikan keluarga, diwarnai oleh pendidikan lingkungan dan pendidikan di sekolah, adalah kunci utama segala pola pikir dan tindak tanduk mahluk.
Karakter, akan secara cepat tertampilkan, dalam keadaan yang membutuhkan reaksi spontan.
Karakter, akan kita lihat dengan mudah dari pola pikir dan perilaku keseharian.
Akhir akhir ini, banyak diantara kita yang terperangah, tercekat, apabila menyaksikan tayangan tayangan di media televisi.
Perangai kasar, wajah bengis penuh amarah, kata kata yang tidak pantas, ekspresi wajah yang garang dan bahasa tubuh lainnya yang mencerminkan karakter yang jauh banget dari sopan santun, ramah tamah, teposeliro penuh empati.
Mengapa sepertinya karakter bangsa kita kini, menjadi bangsa yang jauh dari lemah lembut, teposeliro, berbudi bahasa yang santun dan mempesona ?
Jelas, didalam lingkungan keluarag, kita juga mengetahui, banyak banget keluarga yang tidak harmonis, lingkungannya juga amburadul, bahkan pendidikan di sekolah juga tidak memadai.
Ditambah pula dengan tayangan yang sama sekali tidak mendidik, setiap hari, sepanjang waktu.
Komplit sudah, anak anak hanya mendapat contoh contoh yang memprihatinkan.
Sesungguhnya, disamping peran keluarga, lingkungan dan sekolah, media televisi memegang peran yang amat sangat penting dalam pembentukan karakter.
Banyak tayangan yang cuma sekedar tontonan, tanpa mengutamakan tuntunan.
Banyak tontonan kekerasan, saling mengumpat, perilaku kasar, tidak menghargai, bercampur baur dengan tayangan mistik.
Lengkap sudah energi negatif ditransfer kepada anak anak yang sedang tumbuh kembang.
Geregetan banget kalau kita ingat ingat.
Jaman channel televisi tak ada pilihan, justru banyak tontonan yang amat mendidik, memberi warna positif untuk pembentukan karakter.
Masih ingat kita dengan Drama keseharian didalam Kisah Keluarga Marlia Hardy.
Bagaimana masalah keseharian diselesaikan dengan manis, solusi jitu yang memberi manfaat kepada banyak pihak.
Masih terbayang asyiknya menonton tayangan Keluarga Cemara, Jendela Rumah Kita, Buku Harian dlsb.
Cerita yang mengisahkan kehidupan keseharian. masalah masalah yang timbul di keseharian, baik dilingkungan keluarga, tempat tinggal, tempat kerja, sekolah dll dlsb
Kisah yang membumi, merakyat, berdasarkan kisah kisah nyata dikehidupan keseharian kita, bukan cerita imajinasi, rekayasa atau karangan semata.
Kemanakah tayangan tayangan tersebut kini?
Adakah tayangan tayangan yang serupa dengan tontonan jaman dulu yang sangat bertanggung jawab dan memberi arti dalam pembentukan karakter?
Bandingkan dengan tayangan masa kini yang nyaris seragam di setiap saluran TV, kata kata kasar, perilaku kasar, toyor toyoraan, dorong dorongan, saling menyakiti, memperdaya , melecehkan dan "menganiaya" orang lain.
Apa yang diharapkan dari pertumbuhan dan perkembangan anak yang hidup kesehariannya banyak mendapat energi negatif.
Bukan hanya dirumah dilecehkan, tidak diperhatikan, tidak mendapat pujian bahkan tidak mendapat suri teladan perilaku yang baik, bahkan di sekolahpun, anak didik amat sangat terbebani.
Kurikulum yang berat dan bahkan tidak bisa dipahami mengapa harus belajar materi materi yang nggak ada hubungannya sama sekali dengan tujuan pendidikan itu sendiri. Tujuan pendidikan sejatinya kan memberi lahan yang baik untuk segala potensi.
Bayangkan, anak yang ingin jadi montir, jadi koki, jadi kasir, jadi pelayan, jadi tukang jahit, jadi pemandu wisata, jadi asisten perawat, harus melewati masa sekolah dan ujian yang mengutamakan matematika , kimia dll yang begitu berat.
Bayangkan, anak didik yang memilih sekolah kejuruan, tetap saja harus melalui ujian matematika yang nggak ada hubungannya sama sekali dengan profesi yang dipilihnya.
Kalau soal hitung hitungan tentang nilai jual beli, waktu dan jarak, timbangan dan ukuran, ilmu berhitung yang penting untuk keseharian, boleh lah.
Ini ?
Kurikulum yang berat, fasilitas sekolah yang tidak memadai, mutu guru yang kurang memfasilitasi perkembangan setiap bakat dan potensi, memperlengkap terbentuknya karakter yang jauh dari harapan.
Kita, ingin generasi selanjutnya adalah generasi tangguh mandiri yang bermartabat, sejahtera dalam keadilan, damai dalam kemakmuran.
Lha....peran apa yang kita tampilkan untuk berkontribusi dalam pembentukan karakter sebagai pilar utama, sendi penyangga dalam setiap proses kehidupan ?
Semoga banyak media elektronik tergugah dan menayangkan lebih banyak tontonan yang mendidik, yang menebar energi positif, energi kebaikan, energi yang menumbuhkan karakter jempolan.
Semoga, banyak diantara kita yang tergugah dan segera mengambil peran aktif untuk memberi tuntunan dan teladan kepada generasi generasi muda yang akan memegang peran dalam kehidupan di masa yang akan datang.
Pembentukan karakter, adalah tanggung jawab kita semua, bersama sama, dan tidak bisa ditunda tunda lagi.
Do it.....NOW !
Tuesday, March 09, 2010
Saturday, January 23, 2010
HIGH THINKING PLAIN LIVING
Ini gara gara Kang iwan bikin status di FB nya tentang High Thinking Plain Living, jadi teringat
tulisan si mamah pada suatu ketika, jadi di edit ulang nih :
High Thinking, Plain Living !
Tapi, istilah apa pula itu ?
Sebenernya judul postingan ini pernah ditampilkan.
Tetapi seperti biasa, dari kejadian keseharian, dari obrolan keseharian, dari "penemuan" keseharian, suka teringat akan postingan jadul yang kira kira ada kaitannya.
Dari sebuah milis, ada kata kata indah yang amat sangat menggugah.
Bahwa hidup adalah proses belajar "bersaksi atas keberadaanNya", "bersaksi atas kebesaranNya".......surat yang ditutup dengan kalimat yang amat sangat indah :
" selamat bersaksi dan disaksikan".
Kalimat pendek yang bikin si mamah lamaaaaaa termenung.
( Terimakasih banyak buat pak Niel Makinuddien yang tulisannya selalu mencerahkan. )
Kebetulan, kalimat kalimat tersebut pas banget datangnya dengan petatah petitih yang baru saja si akang sampaikan : hidup harus dalam batas "kepatutan",hidup harus dalam batas "kelayakan".
Apa artinya hidup harus dalam batas kepatutan?
Apakah kita tega bergaya hidup berlimpahan sementara masih baaaanyak diseputar kita yang kekurangan?
Apakah kita tega mempertontonkan "kemewahan duniawi" sementara kita hidup dilingkungan yang masih morat marit?
Masih banyak yang nggak bisa sekolah, masih banyak yang nggak punya rumah , bahkan masih banyak yang kelaparan.
Masih banyak yang butuh uluran tangan kita bukan?
Tulisan tulisan diberbagai media cetak juga jelas jelas banyak menyoroti gaya hidup kekinian yang nggak banget "HIGH THINKING PLAIN LIVING ".
Pemberitaan dalam media cetak atau elektronik saat ini, banyak menyoroti hiruk pikuknya gemebyar para politisi yang mengutamakan popularitas dan gaya hidup.
Sebaliknya pula bersinggungan dengan para selebriti yang bedol desa rame rame terjun ke politik.
Ada yang salah dengan "memanfaatkan" popularitas untuk naik pentas politik ?
Tidak.
Sepanjang niat dan upayanya adalah semata untuk perbaikan bangsa, untuk kesejahteraan yang berkeadilan bagi seluruh rakyat.
Memanfaatkan popularitas untuk manggung di kancah birokrasi juga nggak ada salahnya koq.
Sepanjang diiringi dengan kesungguhan, dan terutama disertai dengan pemikiran yang cerdas, bernas, yahud banget deh pleus itikad yang benar benar demi peningkatan kualitas seluruh rakyat, dibumbui dengan ahlak, adab dan budi pekerti yang patut diteladani.
Ya nggak ?
Akhir akhir ini, siapa sih yang nggak ngeuh.
Selebriti banyak yang "tergandeng" partai politik untuk turut menggaet suara rakyat.
Para artis rame rame menjadi calon pejabat, disandingkan dengan calon pejabat lainnya, dengan maksud yang amat kasat mata, agar rakyat yang sudah akrab dengan wajah artis yang sudah begitu populer, dengan tanpa mikir lagi nyoblos pasangan ybs.
Disisi lain, kita juga menyaksikan "pamer" gaya hidup yang dipertontonkan para politisi.
Bukan saja kita melihat pakaian mentereng, kendaraan mewah, jas buatan designer terkenal, jam bermerk internasional, sepatu licin mengkilap, daaaan...( ini dia )..pola hidup yang berubah...hang out, ngumpul di cafe, kongkouw dari hotel berbintang 5 pindah ke restoran berbintang pula, dengan didampingi peureu peureu yang imut, bening....duuuuuhhh.
Gaya hidup "high level" menjadi tujuan.
Makanya nggak heran, masih saja rakyat kita tertipu dengan berbagai kemudahan dan janji duniawi yang ditawarkan.
Iya nggak?
Tak heran pula jalan pintas mengumpulkan duniawi masih saja marak.
Dan tak heran pula makin banyak yang tertipu atau menipu atau terjerat dalam pasal pasal penyalahgunaan wewenang.....
Semua hanya demi gaya hidup.
Duhhhhh.........
Aksi bagi bagi uang untuk proyek kesejahteraan rakyat yang dijanjikan triliuner dadakan menjadi antrian banyak pihak.
Koq percaya sih ?
Duit segambreng ribuan triliun dari manahoreng ?
Aksi penemuan yang "mencengangkan", yang bikin hidup akan sangat begitu mudah hanya dengan mengolah air yang dikaruniakan Allah begitu banyaknya diseputar kita, menakjubkan banyak pihak, bahkan orang orang penting sekalipun.
Adakah temuan ilmiah sepanjang sejarah peradaban manusia yang gaungnya akan mendunia dan bermanfaat sepanjang masa, ditemukan dalam serta merta, dalam waktu singkat dan rumusannya dirahasiakan?
Aksi bagi bagi duit ratusan juta yang dihamburkan dari pesawat menjadi inceran orang banyak yang memburu kemana pesawat akan menjatuhkan duitnya.
Penemuan kasus demi kasus oleh KPK menjadi bukti, betapa mudahnya orang mengumpulkan duit haram.
Pokoknya, dimana mana gonjang ganjing.
Intinya sih ya itu itu saja.....memburu duniawi untuk memuluskan impian bergaya hidup jor joran
Duuh...
Atau, mungkin manusia sudah sangat banyak yang kalap,frustrasi, banyak yang terjepit, sehingga menjadi nggak rasional, nggak beretika, nggak berahlak, nggak bermoral?
Pengennya hidup enak dengan cara mudah ?
Nggak mau mikir apalagi bekerja keras mambanting tulang memeras keringat?
Kapan ya kita semua terpacu bergaya hidup berlandaskan spirit High Thinking, Plain Living ?
Dalam kesederhanaan hidup, siapapun yang high thinking, akan dikenang , bahkan menjadi teladan bagi siapapun yang mengenalnya.
Siapapun yang HIGH THINKING PLAIN LIVING, pasti sedang dalam proses perbaikan kualitas hidup yang jauh lebih bermakna.
Perbaikan pemahaman dalam proses "bersaksi dan disaksikan".
Mungkin kita semua harus banyak dan sering mendapat tontonan, tuntunan, bacaan atau apapun yang mengingatkan kita agar mengisi sisa usia kita yang tidak begitu panjang ini dengan spirit HIGH THINKING PLAIN LIVING.
Tetap sederhana, bersahaja dalam sikap dan gaya hidup, tetapi memberi output dan kontribusi positif yang menggelegar buat meningkatkan kualitas hidup sebanyak banyak mahlukNya.
Salam.
tulisan si mamah pada suatu ketika, jadi di edit ulang nih :
High Thinking, Plain Living !
Tapi, istilah apa pula itu ?
Sebenernya judul postingan ini pernah ditampilkan.
Tetapi seperti biasa, dari kejadian keseharian, dari obrolan keseharian, dari "penemuan" keseharian, suka teringat akan postingan jadul yang kira kira ada kaitannya.
Dari sebuah milis, ada kata kata indah yang amat sangat menggugah.
Bahwa hidup adalah proses belajar "bersaksi atas keberadaanNya", "bersaksi atas kebesaranNya".......surat yang ditutup dengan kalimat yang amat sangat indah :
" selamat bersaksi dan disaksikan".
Kalimat pendek yang bikin si mamah lamaaaaaa termenung.
( Terimakasih banyak buat pak Niel Makinuddien yang tulisannya selalu mencerahkan. )
Kebetulan, kalimat kalimat tersebut pas banget datangnya dengan petatah petitih yang baru saja si akang sampaikan : hidup harus dalam batas "kepatutan",hidup harus dalam batas "kelayakan".
Apa artinya hidup harus dalam batas kepatutan?
Apakah kita tega bergaya hidup berlimpahan sementara masih baaaanyak diseputar kita yang kekurangan?
Apakah kita tega mempertontonkan "kemewahan duniawi" sementara kita hidup dilingkungan yang masih morat marit?
Masih banyak yang nggak bisa sekolah, masih banyak yang nggak punya rumah , bahkan masih banyak yang kelaparan.
Masih banyak yang butuh uluran tangan kita bukan?
Tulisan tulisan diberbagai media cetak juga jelas jelas banyak menyoroti gaya hidup kekinian yang nggak banget "HIGH THINKING PLAIN LIVING ".
Pemberitaan dalam media cetak atau elektronik saat ini, banyak menyoroti hiruk pikuknya gemebyar para politisi yang mengutamakan popularitas dan gaya hidup.
Sebaliknya pula bersinggungan dengan para selebriti yang bedol desa rame rame terjun ke politik.
Ada yang salah dengan "memanfaatkan" popularitas untuk naik pentas politik ?
Tidak.
Sepanjang niat dan upayanya adalah semata untuk perbaikan bangsa, untuk kesejahteraan yang berkeadilan bagi seluruh rakyat.
Memanfaatkan popularitas untuk manggung di kancah birokrasi juga nggak ada salahnya koq.
Sepanjang diiringi dengan kesungguhan, dan terutama disertai dengan pemikiran yang cerdas, bernas, yahud banget deh pleus itikad yang benar benar demi peningkatan kualitas seluruh rakyat, dibumbui dengan ahlak, adab dan budi pekerti yang patut diteladani.
Ya nggak ?
Akhir akhir ini, siapa sih yang nggak ngeuh.
Selebriti banyak yang "tergandeng" partai politik untuk turut menggaet suara rakyat.
Para artis rame rame menjadi calon pejabat, disandingkan dengan calon pejabat lainnya, dengan maksud yang amat kasat mata, agar rakyat yang sudah akrab dengan wajah artis yang sudah begitu populer, dengan tanpa mikir lagi nyoblos pasangan ybs.
Disisi lain, kita juga menyaksikan "pamer" gaya hidup yang dipertontonkan para politisi.
Bukan saja kita melihat pakaian mentereng, kendaraan mewah, jas buatan designer terkenal, jam bermerk internasional, sepatu licin mengkilap, daaaan...( ini dia )..pola hidup yang berubah...hang out, ngumpul di cafe, kongkouw dari hotel berbintang 5 pindah ke restoran berbintang pula, dengan didampingi peureu peureu yang imut, bening....duuuuuhhh.
Gaya hidup "high level" menjadi tujuan.
Makanya nggak heran, masih saja rakyat kita tertipu dengan berbagai kemudahan dan janji duniawi yang ditawarkan.
Iya nggak?
Tak heran pula jalan pintas mengumpulkan duniawi masih saja marak.
Dan tak heran pula makin banyak yang tertipu atau menipu atau terjerat dalam pasal pasal penyalahgunaan wewenang.....
Semua hanya demi gaya hidup.
Duhhhhh.........
Aksi bagi bagi uang untuk proyek kesejahteraan rakyat yang dijanjikan triliuner dadakan menjadi antrian banyak pihak.
Koq percaya sih ?
Duit segambreng ribuan triliun dari manahoreng ?
Aksi penemuan yang "mencengangkan", yang bikin hidup akan sangat begitu mudah hanya dengan mengolah air yang dikaruniakan Allah begitu banyaknya diseputar kita, menakjubkan banyak pihak, bahkan orang orang penting sekalipun.
Adakah temuan ilmiah sepanjang sejarah peradaban manusia yang gaungnya akan mendunia dan bermanfaat sepanjang masa, ditemukan dalam serta merta, dalam waktu singkat dan rumusannya dirahasiakan?
Aksi bagi bagi duit ratusan juta yang dihamburkan dari pesawat menjadi inceran orang banyak yang memburu kemana pesawat akan menjatuhkan duitnya.
Penemuan kasus demi kasus oleh KPK menjadi bukti, betapa mudahnya orang mengumpulkan duit haram.
Pokoknya, dimana mana gonjang ganjing.
Intinya sih ya itu itu saja.....memburu duniawi untuk memuluskan impian bergaya hidup jor joran
Duuh...
Atau, mungkin manusia sudah sangat banyak yang kalap,frustrasi, banyak yang terjepit, sehingga menjadi nggak rasional, nggak beretika, nggak berahlak, nggak bermoral?
Pengennya hidup enak dengan cara mudah ?
Nggak mau mikir apalagi bekerja keras mambanting tulang memeras keringat?
Kapan ya kita semua terpacu bergaya hidup berlandaskan spirit High Thinking, Plain Living ?
Dalam kesederhanaan hidup, siapapun yang high thinking, akan dikenang , bahkan menjadi teladan bagi siapapun yang mengenalnya.
Siapapun yang HIGH THINKING PLAIN LIVING, pasti sedang dalam proses perbaikan kualitas hidup yang jauh lebih bermakna.
Perbaikan pemahaman dalam proses "bersaksi dan disaksikan".
Mungkin kita semua harus banyak dan sering mendapat tontonan, tuntunan, bacaan atau apapun yang mengingatkan kita agar mengisi sisa usia kita yang tidak begitu panjang ini dengan spirit HIGH THINKING PLAIN LIVING.
Tetap sederhana, bersahaja dalam sikap dan gaya hidup, tetapi memberi output dan kontribusi positif yang menggelegar buat meningkatkan kualitas hidup sebanyak banyak mahlukNya.
Salam.
Subscribe to:
Comments (Atom)