Tuesday, February 19, 2008

PEREMPUAN JAMAN KIWARI

Postingan ini pernah ditampilkan tahun lalu, diedit ulang dan ditampilkan kembali, karena dalam beberapa hari ini si mamah nyasar ke blog beberapa ibu yang sedang sibuk banget ditinggal mudik pembantu, atau juga ada blogger yang lagi kesel sama berbagai hal dan kebetulan punya anak yang sebenernya pinter, lucu dan nggak bisa diem, sehingga akhirnya , anak, mahluk paling lemah didalam rumah, menjadi korban kekesalan sang ibu......dicubitttt.....duhhhh.

Cerita ini ingin banget disampaikan buat mereka, pasangan muda, yang mulai menapaki jalan, merintis pengembaraan kearah tujuan bahtera rumah tangga yang bahagia sejahtera penuh kasih sayang dan saling support sampai maut memisahkan.

Dulu, mungkin nggak serumit jaman kiwari, ketika suami istri mengayuh bahtera rumah tangga. Perempuan jaman itu nggak tinggi tinggi amat pendidikannya, bahkan nggak berpendidikan. Disamping itu, jenis pekerjaan kaum lelaki, para pencari nafkah, nyaris seragam, pergi pagi, pulang siang, dan masih banyak waktu untuk bercengkrama, bermain, bersilaturahmi.
Apalagi jaman media elektronik belum berkembang, kumpul keluarga selalu terjadi setiap saat, baik di meja makan, di teras rumah, atau diruangkeluarga, satu sama lain saling berbagi cerita, saling mengetahui apa dan bagaimana keseharian anggota keluarga lainnya.

Sekarang, banyak perempuan cerdas berpendidikan tinggi, yang ketika mulai menapaki kehidupan berkeluarga, harus tinggal dirumah dengan berbagai alasan.
Apakah karena keinginan sendiri untuk mengurus rumah, mengurus keluarga terutama anak anak, apakah karena keterpaksaan, atau karena permintaan suami yang menginginkan istrinya dan ibu anak anaknya tinggal dirumah, sementara ia giat mencari nafkah sampai larut malam, atau bahkan nggak pulang pulang dalam beberapa hari.

Perempuan yang mandiri, cerdas berprestasi, multitalenta, berdedikasi tinggi terhadap apapun yang menjadi tanggung jawabnya, penuh gairah, penuh semangat dan senantiasa berenergi menyongsong hari demi hari, umumnya juga mempunyai tuntutan yang tinggi terhadap diri sendiri, mengerjakan apapun harus bagus, harus sempurna, harus maksimal dll dll.... Time schedule terjaga rapi, detail pekerjaan tersusun sempurna.

Pokoknya, selalu pasang target maksimal.
Apakah salah, apabila seseorang selalu berupaya, berikhtiar atau mengejar target maksimal ? Bukankah kita harus melakukan apapun dengan maksimal ???
Tentu saja pasang target maksimal tidak salah, tetapi, tuntutan maksimal terhadap diri sendiri tsb, haruslah disesuaikan dengan situasi dan kondisi. Janganlah kaum perempuan menjadi objek penderita atas tuntutan pencapaiannya sendiri, berusaha maksimal, sementara lingkungan terdekat kurang mensupport, lambat laun, energi yang terbangun akan habis, pudar.

Banyak yang kita lihat, perempuan multitalenta bekerja keras menjalani hari demi hari, mengerjakan begitu banyak macam pekerjaan dengan sempurna, sementara kaum lelaki tetap saja terperangkap dalam pola jadul, hidup dalam dunianya sendiri.
Meminjam istilah seorang teman, kaum lelaki itu "autisme", hidup hanya didunianya sendiri, ialah dunia kerja, kerja dan kerja. Para suami, singgah kerumah hanya sebagai tempat peristirahatan untuk tidur, makan, baca koran, nonton tv atau kembali ke komputer.

Perempuan, bagaikan mesin robot yang tanpa henti bekerja, menyiapkan sarapan, membuat bekal sekolah, membersihkan rumah yang selalu dan selalu kembali berantakan, belanja, mengatur menu, memasak, mengantar anak, membantu pe-er, mencuci, menyetrika dan seribu satu hal tetek bengek lainnya.
Kata adikku, pekerjaan ibu rumah tangga itu bila dikerjakan nggak akan kelihatan hasilnya, tapi kalau nggak dikerjakan, baru jelas apa saja yang seharusnya dilakukan.

Seorang blogger pernah menceritakan keinginan anak lelakinya yang masih kecil untuk menjadi perempuan karena perempuan itu hebat, bisa segala macam, sedangkan laki laki hanya mampu mengerjakan 5 macam hal saja, mencari uang, membeli mobil, tidur, makan dan nonton film. Pendapat anak lelaki tsb tentu saja didapat dari pencitraan lingkungannya, dan bukan mustahil, kelak, si bocah lelaki ketika berangkat dewasa akan melakukan hanya kelima hal seperti gambaran yang ia dapat ketika kecil.

Banyak, banyak sekali, kaum perempuan cerdas multi talenta terperangkap dalam kesibukan hari demi harinya tanpa ia bisa mencurahkan isi hatinya kepada orang terdekatnya.

Bagaimanapun...perempuan juga manusia bukan ? yang punya hati dan perasaan, punya keinginan dan tuntutan, yang bioritmiknya naik turun, yang kadar keihklasannya juga bergelombang, yang kemampuan fisiknya ada batasnya.
Mau ngomong sama suaminya, suami nggak punya waktu, suami pulang kerumah dalam keadaan lelah, kalaupun curhat, nggak didengar dengan baik, nggak ada solusi.
Berulang kali menyampaikan keinginan ataupun harapan, boro boro ada perubahan, bahkan ketika berbicarapun, suami mendengar separuh hati sambil baca koran atau nonton tv atau asyik dengan komputer.
Mau bicara kepada pihak lain takut menjadi salah persepsi, takut mendapat imej tidak baik.

Pokoknya, upaya kaum perempuan untuk mencari solusi kegelisahan batin menemui jalan buntu, sampai akhirnya, suatu saat beban tersebut tak akan tertanggungkan.
Apapun bisa terjadi, pemberontakan, tindakan tak terduga, atau timbulnya penyakit tertentu. Ini jelas, harus diwaspadai, sudah banyak peristiwa terjadi akibat komunikasi pasutri yang tidak tuntas, tidak tercapai komunikasi yang terjalin dengan indah, tak pernah ada komunikasi yang ujungnya mencapai kesepakatan, betapa kaum perempuan yang sudah pakepoh, tihothat, pakepruk, tisusut tidungdung berkurang energinya butuh bantuan orang orang terdekatnya, terutama suami tercinta.

Siapa sih yang ingin bikin susah suami ?
Siapa sih yang ingin menghalangi atau menghambat pekerjaan suami ?
Tidak satupun perempuan yang menginginkannya.......

Perempuan, cuma butuh didengarkan dengan sepenuh hati.
Perempuan hanya butuh perhatian yang diberikan suaminya dengan benar benar utuh.
Apabila sudah didengarkan dengan baik dan diperhatikan dengan utuh, energi kaum perempuan tidak akan menyusut, bahkan akan berlimpah untuk kemudian berbakti kembali, mengabdikan seluruh hidupnya bagi orang orang tercinta, anak anak dan suaminya.

Buat para pameget, para lelaki, sing tiasa miara para bojonya ya...jangan jablai....banyak bantu urusan rumahan, kasih waktu buat ngobrol yang tuntas dan intens, dengerin suara batinnya.

Mumpung masih bulan penuh cinta.....persinggahan bagi yang alpa, tempat introspeksi. Ayo...perhatikan istrimu...........jangan "autisme."

Jadi inget bapakku...ihiks...ihiks.....
Beliau adalah ayah yang nyaris sempurna, suami teladan. Kata ibuku, bapakku adalah suami terbaik sepanjang masa.
Beliau senantiasa ada untuk anak dan istri.
Beliau memupuk cinta anak istri tiada henti dengan limpahan kasih sayang setiap saat.
Beliau memupuk cinta terus menerus tiada henti, ngobrol, mengusap, mengelus, teman curhat , teman bermain, teman bikin peer, teman belanja, teman piknik, ketawa ketiwi dll dll...

Padahal....saat itu, beliau sibuk dengan karya tulisnya berupa buku buku yang banyak diterbitkan dan dipakai di sekolah sekolah, dan......Beliau saat itu adalah seorang pejabat tingkat propinsi di bidang pendidikan yang numpuk buanget kerjaannya.

Semoga bapakku dan ibuku dimuliakanNya dan dibahagiakanNya dialam sana, amin.
Semoga kita semua menjadi manusia yang bahagia lahir batin, bisa saling mengasihi, menyayangi, menempuh hidup bersama penuh kebahagiaan, penuh pengertian, penuh perhatian, saling support, saling memberi energi, memperoleh rejeki yang berkah dan juga memperoleh kemudahan menjalankan hidup keseharian, amin.

Yuk ah, Salam

6 comments:

amalia said...

emang bener ya mam.. kita perempuan itu hanya ingin di ngertiin... ntuk segala hal..
Rasanya seneng banget kalo suami.. nyisain waktu untuk ngebahagiain keluarganya.. semoga aja jd lbh baik

ipotes said...

Saya sangat bertrimakasih ke mamah udah nulis hal ini, saya selaku laki-laki dan nantinya menjadi suami, saya rasa ini akan jadi bekal untuk jadi suami yang baik!trims

adjeng said...

Mamah, adjeng sering mampir kesini. seneeeng deh baca postingan mamah.
tapi kalo boleh request ni, tolong diketiknya pake paragraf yang lebih pendek ya Maah...
maklum ni, rada-rada rieut baca font yang kecil :-)

makasi Mamaaah....
keep on posting yaa...

ipotes said...

Makasi mamah, tulisan mamah ni ngasi aku inpirasi buat nulis di blog tentang rumah tangga (medewasakan cinta) walo blum berumahtangga..hee
mamah saya undang khusus buat baca n ngasi koment ke tulisan itu.Trims

widie said...

Iya mamah...kita ga boleh kalah sm perempuan jaman kiwari yaa...secara emang masalahnya beda2 tp setidaknya kita hrs lebih maju ya...

Semangatnya itu lho..yg ngga pantang menyerah yaa...perlu diconto...

BUndAzkA said...

wahhh bagus banget nihh postingannya...walo dah pnh baca yg dulu, yg ini tetep aJa smkn mantepin hatii..

hmm, lgsg deh nih di forward ke swamii..hehehe..biar lbh merasa perjuangan sang istri yang jelas biar lebih sayang dong;)