Wednesday, January 16, 2008

TARHIL

Seumur umur, sepanjang hidup si mamah, belum pernah mendengar kata yang satu ini, Tarhil. Sampai suatu ketika, di Jeddah, pada saat mau pulang berhaji, ustadz Risman berujar : Pesawat yang membawa ibu pulang ke Jakarta hanya mengangkut sedikit jamaah Haji, bagian terbesar adalah Tarhil.

Apa sih Tarhil itu ( mudah mudahan ejaannya bener begini ya ), spontan aja si mamah bertanya. Katanya, Tarhil ialah mereka yang melanggar batas ijin tinggal, pada saat ini kebanyakan mereka yang datang dengan visa Umrah, datang jauh sebelum Ramadhan, dan sengaja nggak pulang nunggu berhaji, trus mereka sengaja pula "minta" ditangkap aparat Arab Saudi, trus dipenjara, dan selanjutnya tugas KBRI Arab Saudi memulangkan mereka kekampung halamannya dengan biaya negara....

Euleuh euleuh......koq begitu caranya pengen berhaji ya...niatnya aja udah tulalit....

Konon, menurut Majalah Tempo terbitan akhir Desember lalu, setiap tahunnya, KBRI Arab Saudi harus memulangkan mereka yang bermasalah, diantaranya yang dideportasi, atau karena berbagai sebab dan alasan sebanyak 23 ribu orang !..
Haaaaah ? Duit segambreng diantaranya bayaran pajak kita kita semua termasuk untuk membiayai kelompok ini juga ???
Busyet dah.....

Menurut Tempo juga, akhir Desember lalu, ada sekitar 600 orang yang harus dipulangkan....naaaah ini sebagian diantaranya yang satu pesawat dengan si mamah kali ya........

Memang benar, begitu kita naik tangga pesawat, ditangga satunya penuuuuuh, ngantri para perempuan berbusana hitam hitam dikawal aparat paling belakang.
Didalam pesawat juga sudah penuuuuuh sama yang pakaiannya hitam hitam, batuk batuk lagi......duuuuuuh, ini perasaan gimanaaaaa gitu ya...nano nano banget deh , ada sedih, kasihan, prihatin ( bayangin, mereka nggak bawa apa apa, cuma pake sandal jepit lagi, mungkin baru keluar dari penjara ya ), ada kesel, marah, gemes.......abis koq nekad mau merantau dengan cara begitu....merendahkan martabat bangsa banget.

Sepanjang penerbangan, mereka batuk batuk, tapi anehnya....koq pada happy happy ya....koq pada rame cerita cerita soal waktu dipenjara segala macam......Koq kayaknya mereka sukacita mau pulang dengan biaya gratisan.....duuuuuuh.

Ketika baca Tempo kemarin, baru rada rada mengerti.
Konon, katanya mereka tiba di Arab Saudi dengan visa Umrah, datang sebelum bulan puasa, sengaja nggak pulang hingga melewati batas waktu ijin tinggal.
Mereka tuh ada yang menampung dan ada yang mengkoordinir, ada yang menyalurkan tenaganya sepanjang musim haji secara illegal ( kan musim haji pasti banyak yang butuh bantuan tenaga ekstra ), bahkan ada yang minta bayaran penampungan 600 reyal sebulan ( kata pak sopir, ada yang bayar 2-3 reyal semalam kepada koordinator yang menampung ).

Terkadang mereka dagang, jualan, apa saja, ada makanan, sate, kurma muda dlsb. Kalau ada aparat, mereka dikejar, dagangannya dikeremus dihancurkan, orangnya ditangkap, dikurung dipenjara........

Beueueueueu...koq jadi kayak kambing liar ya....dikejar, ditangkap, diikat, dikurung......
Mau dikemanakan martabat bangsa kalau sepanjang waktu Aparat Arab Saudi menghadapi keadaan yang begitu begituuuuuuuu terus.....

Pantesan Dubes Arab Saudi itu selalu pusying....banyak banget urusan dengan warga negara RI....soal TKW yang mengalami kekerasan lah, soal Tarhil lah......soal harus memulangkan mereka dengan biaya negara lah......wuuuuiih, bener bener bikin pusying tuh....

Tarhil, apakah terjadi karena kemiskinan ? alasan ekonomi ? kebodohan ? kenekadan ? ketidaktahuan atau kesengajaan ? kekonyolan ? kekurang ajaran atau apa ya ?

Yang jelas, katanya setiap musim haji pasti buanyaaaaak banget yang Tarhil.
Dulu, aparat menangkapi mereka setelah mereka berhaji, sekarang, sudah dilakukan sebelum musim haji....biar kapok ??

Memang yang Tarhil itu dari tahun ketahun selalu ada dan banyak, bahkan orangnya bisa jadi itu lagi itu lagi, nggak kapok kapok, malah bangga dan sueneng.......
Apa pasal ?
Ternyata mereka bisa berhaji dengan biaya minim, bisa kerja illegal, bisa ngumpulin duit, duitnya udah dikirim kekampung halamannya beserta barang barangnya duluan, dititipin ke para koordinator yang memang punya ijin tinggal sehingga leluasa bisa transfer duit
Kalau mereka pengen pulang...ya tinggal membuang semua identitas, KTP, Paspor dlsb, sengaja deketin Aparat supaya ditangkap, dipenjara sebentar dan.........bisa pulang gratisssss sampai kampung halamannya.....

Beueueueueueu.....ada ya yang pola pikirnya pengen begitu....
Coba......kudunya diapain mereka itu ?

Yang jelas, yang begini begini harus distop, jangan ada lagi deh Tarhil Tarhil an....

Ngelihatnya juga malu banget, bangsa sendiri dikawal aparat naik pesawat, sementara merekanya happy happy...cekikikan malah, dan sampai di cengkareng juga, astaghfirullahaladziim...
Itu pakaian hitam dilepas, ada yang pake jeans, ada yang pake celana ketat sepatu boots hak tinggi, ada yang rambutnya merah dikuncir, ada yang pake anting dihidung, cekakak cekikik.....duuuuuuuh, gimana coba perasaan kita lihat yang begitu begitu......hayo....kudu diapain tuh.....

Kalau kata si mamah, hukum harus tegas, yang utama dan pertama ialah hukum dengan tegas mereka yang memungkinkan adanya peluang itu.
Siapa ?
Jelas para koordinator, para calo, para agen yang sudah pasti memungut duit sekian perkepala, iya nggak ?
Trus para pamong setempat, ya RT, ya pak RW ya pak Kades, ya pak Camat, yang sudah pasti amat sangat tahu ada yang begini begini....
Mbok ya jangan dikasih ijin dong pak, gunta ganti KTP, bikin surat keterangan di kantor lurah dlsb, juga jangan dibikinin paspor, visa dlsb.
Trus, para ulama juga atuh harus gencar memberi tahu....
Mau apa apaan itu teh mereka pengen berhaji dengan cara begitu ???

Ampyun deh, banget banget ampyun...ngisinkeun, memalukan.......ternyata bukan semata karena alasan ekonomi bukan ???

Hayo...kata para blogger, harus diapain atuh ??.....

3 comments:

an diana said...

bingung mau komen apaan...malu juga nih! stressssss....kok ada ya yang tega bermuka badak begitu? urat malunya udah putus...tus!!

KORWILPDIPKSA said...

Cerita mama itu tidak semuanya benar, atas pengakuan dari deportasi tarhil. yang sebenarnya kebanyakan pemulangan deportasi tarhil saudi adalah TKW/TKL berasal dari kaburan (kabur dari majikan), jadi saya tidak senang atas tindakan an diana said, karena anda tidak tau yang sebenarnya, ini semua karena kekurangan keperhatian perwakilan RI di Arab Saudi, (Masa Bodoh), mereka bukan tidak punya uang untuk ongkos pulang, tapi KJRI tidak kuasa untuk mengurus pemulangan mereka secara resmi. ini suatu penghinaan, anda tanya dulu ke perwakilan RI di Saudi Arabia, apa yang dapat beliau bantu, meraka banyak ingin pulang secara resmi melalui wakil RI di Arab saudai, kalau anda mengatakan rakyat kecil Indonesia bermuka badak salah besar, semustinya perwakilan RI dan Pemerintah meninjau, ada apa permasalahan yang sebenarnya, semua itu bukan berasal dari orang-orang umroh + haji.

Astrid said...

@KORWILPDIPKSA

"mereka bukan tidak punya uang untuk ongkos pulang, tapi KJRI tidak kuasa untuk mengurus pemulangan mereka secara resmi."

Lah mereka kan pulang dibayarin negara RI. Kalau bukan wakil RI di Arab Saudi yang ngurus siapa lagi? Artikel ini kan ditulis berdasarkan pengalaman pribadi, apa yang dilihat dan didengar sendiri. Lagipula jika ada orang yang berkomentar dan berpendapat lain bebas-bebas saja bukan?

Anda sendiri aktif di bidang apa ya? Kok saya cek ke blognya tidak ada artikel apapun yang anda tulis? Jadi seperti blogger tidak aktif, tapi tiba-tiba ikut komentar. Jika menurut anda pemikiran orang lain adalah salah, tulis cerita yang sebenarnya(menurut anda) di blog anda sendiri, supaya blogger lain bisa ikut baca juga dan mengerti.OK!!