Sunday, September 28, 2008

MUDIK

Subhanallah....Allahu Akbar .
Cuma kata kata itu yang bisa terucapkan....
Selebihnya....speechless banget.

Mau ngomentarin apa coba, melihat pemandangan yang dahsyat ruarrrr biasa, yang hanya terjadi setahun sekali dan hanya terjadi di negara kita, Indonesia.

Ada yang pernah lihat pemandangan tersebut nggak?
Atau bahkan ada yang menjadi bagian dari pergerakan yang dahsyat dari kota menuju udik?

Ya, memang benar, mudik.
Menuju udik, bgitu kira kira terjemahannya ya.

Akhir akhir ini, khususnya sejak H-5, menjelang Hari Iedul Fitri, semua perhatian, semua fokus, semua pembicaraan hanya tertuju pada drama kolosal yang satu ini : MUDIK.

Di media cetak, elektronik, tayangan langsung, atau apapun...berita utamanya tak lepas dari kegiatan yang satu ini : Menuju Udik.

Ternyata, memang mayoritas kita itu orang udik ya....hehehehehe.
Makanya seputar lebaran ini Jabodetabek nyaris lengang.
Hampir sebagian besar penduduknya kembali kekampung halamannya, di Udik alias di kampung.

Jadi inget, ketika beberapa tahun yang lalu, keluarga si mamah juga suka mudik, tetangga atau teman kantor suka nanya, "mudik juga bu "
Si mamah suka spontan menjawab " Yeeeee, saya mah nggak mudik atuh, ngota...menuju kota....heheheheh"
Iya bener, dari Kawasan Puspiptek di desa Setu serpong yang udik ke Jalan Ciliwung di kota Bandung kan bukan mudik, tapi ngota...iya nggak? hehehehehehe.

Mudik, ternyata merupakaan energi yang sungguh dahsyat, ruarr biasa.

Betapa tidak, orang mempertaruhkan segalanya, hanya untuk berlebaran dikampung.
Tabungan setahun diludeskan bahkan nambah utangan pula buat melengkapi biaya mudik plus oleh oleh.

Tenaga tercurah untuk membeli oleh oleh dan mengangkutnya ke kampung.
Menjingjing,menenteng, menggembol, memanggul..pokoknya heboh.

Yang dibeli untuk oleh oleh juga beragam banget.
Ada pakaian, ada kue, ada permen, ada coklat, ada sajadah, bahkan ada duit.

Ya, duit.
Menjelang lebaran, tukang jualan duit laku keras.

Di pasar modern BSD ada tukang duit.
Di sepanjang jalan utama menuju Pondok Indah Mal, hampir tiap 10 meter berdiri pedagang duit.

Duit seribuan baru segepok, atau lima ribuan baru atau sepuluh ribuan, buat nyawer atau bagi bagi angpau di kampung.
Setiap jumlah seratus ribu, kita harus bayar seratus lima ribu.

Peluang bisnis yang menjanjikan dan sangat menguntungkan.
Lihat saja di daerah Pondok Indah.
Banyak pengendara motor atau mobil menghentikan laju kendaraannya, untuk bertransaksi membeli duit.

Ini nyata, ini fakta, hanya ada di Indonesia, jual beli duit terang terangan pinggir jalan raya.

Memperhatikan yang mudik, barang bawaannya dikemas dalam kopor, travel bag, tas jinjing, tas kempit, tas plastik, karung, dus indomie, dus aqua, dus bekas Kipas Angin, dll dlsb.

Si mamah baru tahu bahwa ada selebriti dengan dua anak, kalau mudik ke jogya, bawaannya 16 kopor besar!!!

Sebagian koper terbawa pesawat terbang, sebagian besar dikirim lewat travel.
Ckckckckckckckc, bawa apa aja buuuuuuu....

Katanya sih bawa segala keperluan anak anak, mainan, sprei, bedcover, susu, makanan, bahkan coolbox berisi sayuran hidrophonic diangkut mudik.

Emang di Jogyakarta nggak ada susu, pampers, daging, sayuran ,buah buahan ya......
Duhhhhhhhh...

Yang juga menakjubkan, adalah segi waktu tempuh perjalanan.
Waktu puluhan jam dijalanan yang macet total, dilakonin dengan sabar,
Bayangkan, Bekasi -Cirebon yang normalnya ditempuh sekitar 2 jam, seputar lebaran ditempuh dalam 20 jam !!!

Dan orang teteeeeeep aja mau mudik, walaupun sudah sangat tahu, akan menguras tenaga, waktu dan kesabaran.

Mudik, bagi sebagian besar pemudik bahkan membatalkan puasa, atau bikin orang nggak puasa.

Bolehlah, dengan alasan musafir, dalam perjalanan.
Tapi terkadang untuk jarak mudik yang pendek, dengan alasan macet berat, tokh orang nggak puasa juga.

Betapa tidak.
Macet dijalanan, nggak tahu kapan tiba, makan sahur terlewatkan, buka puasa entah bisa dimana, sementara pengap, panas, mencekik leher.
Maka isi botol minumanpun diteguk ditengah perjalanan.

Mudik, ternyata terkadang bikin orang menjadi irrasional.
Bayangkan, separuh penumpang kapal laut di ambon, adalah penumpang gelap yang tanpa tiket.

Mereka nggak sadar membahayakan orang lain yang patuh membayar, atau bahkan mencelakakan jiwanya sendiri.
Kalau kapal keberatan dan tenggelam...hayooooo, gimana?

Anehnya, karena kapal tak kunjung diberangkatkan sebelum penumpang gelap keluar kapal, malah kantor kapal tersebut terancam diobrak abrik massa yang menginginkan kapal tersebut segera diberangkatkan, nggak peduli membahayakan atau tidak.
Duhhhhh....

Di bidang perkereta apian sami mawon.

Ruang lokomotif dijejali penumpang gelap tanpa tiket yang membayar kepada masinis.
Dan ketika petugas pengawas kereta api tak kunjung meniup peluit tanda kereta api boleh berangkat, penumpang resah.

Selalu terjadi ngotot ngototan, antara penumpang gelap yang disuruh turun untuk membeli karcis resmi dengan petugas yang tegas.

Mudik, dari segi keuangan, membuat kita benar benar membelalakan mata.
Konon, menurut berita media elektronik, triliunan rupiah disedot hanya untuk kegiatan mudik.

Konon pula, TKI menyumbang 14 triliun rupiah yang dikirimkan dari mancanegara ke kampung kampung.

Konon lagi , sebulan ramadhan, uang kartal yang tertarik dari bank mencapai 40 triliun.
Siapa bilang rakyat kita miskin?

Katanya sih, 65 % dari 40 triliun uang yang tertarik dari bank, terjadi di Jakarta.

Halah....pantesan orang mudik nanti kembali ke Jakarta dengan membawa relasi, tetangga, teman, sanak saudara dll, dlsb.
Karena memang Jakarta bagai magnet yang akan memberikan triliuna rupiah lagi ditahun depan untuk dibawa mudik.

Mengamati jutaan pemudik, memang memberi dampak energi yang dahsyat.
Kita seperti tertular mendapat energi, menyaksikan betapa dahsyatnya peristiwa mudik menjelang lebaran.

Bayangkan, ribuan berbagai jenis kendaraan berhimpitan,berjejeran merayap sepanjang puluhan bahkan ratusan kilometer.

Konon, tahun ini 2,5 juta sepeda motor memenuhi jalan raya dalam kaitannya dengan peristiwa mudik lebaran.

Ada yang naik motor sorangan wae dengan helm ala kadarnya, diboncengannya terikat dus indomie entah berisi apa pula.

Ada pula yang membawa beras karungan di boncengan tambahan yang terbuat dari papan kayu.

Ada pula yang naik motor dengan tongkrongan yang menakjubkan.

Bayangkan, didepan pengendara duduk seorang anak, didepan anaknya ada tas kecil, dibelakang pengendara duduk pula seorang anak lain, dibelakang si anak duduk ibunya, paling belakang ada tambahan boncengan dari kayu atau bambu, bertengger travel bag, sementara si ibu membawa ransel pula.

Ada pula pengendara motor yang menyimpan koper kecil didepannya, dibelakangnya nempel travel bag, diatas travelbag ditidurkan seorang bayi, sementara si ibu memegangi sang bayi dan dipunggungnya menempel pula ransel.

Berbagai jenis kendaraan roda 4 pun tak luput menyimpan banyak energi.
Mobil diisi melebihi kapasitas, sementara barang disimpan diatas, orang terbungkuk bungkuk jongkok di bagasi mobil.
Beueueueueueu....mau kemana tuh...gimana kalau jaraknya jauh...bongkok beneran tuh.

Sementara mobil boks yang seyogyanya berisi barang, dijejali penumpang dan motor, pintu boks bergiliran dipegangi dan dibukakan sedikit hanya untuk mendapatkan sedikit oksigen.

Ada pula truk yang ditutupi kain terpal....
Seperti mengangkut barang, tetapi sesungguhnya dibawah terpal berjejalan pemudik dengan ditimbuni barang bawaannya.

Maka tak heran sekali kali kita melihat ada kepala menyembul keluar dari tutup terpal, kadang bertelanjang dada.
Mungkin mereka yang sudah tak tahan dengan panas dan pengapnya udara dibawah terpal
Duhhhh.....apa nggak akan mati lemas di perjalanan ya...

Bermacam pemandangan, bermacam informasi tentang mudik, memang membuat kita berdecak kagum.
Segitunya ya perjuangan orang untuk berlebaran di kampung halaman.

Berjuang menuju kampung halaman, tak selamanya berbuah manis.
Begitu banyak cerita pilu tentang pemudik.
Yang kecopetanlah, yang dihipnotis dan dikuras duitnyalah, yang kena bujuk minuman yang membuat pingsan lah.

Atau, yang mengalami kecelakaan lalu lintas.
Dari yang pesawat terbangnya kena turbulen, kapal laut tenggelam, kereta api anjlok, tabrakan lalu lintas, masuk jurang karena pengemudi mengantuk, tertabrak kereta api di lintasan kereta tanpa palang pintu, bus terbakar, sampai ke mati tergilas truk karena jatuh dari boncengan motor.
Duhh..........tragis banget.

Mudik, juga mempertontonkan kepasrahan ( atau keterpaksaan ?? ) manusia atas perlakuan semena mena manusia lainnya.
Bayangkan. Ongkos mudik yang berlipat lipat tetap saja mereka bayar.

Bayangkan, penumpang alat transportasi yang berjejalan, jauh melebihi kapasitas yang seharusnya, tetap saja nggak ada yang protes.
Mereka diam, atas perlakuan semena mena apapun, demi satu tujuan, sampai ke kampung halaman nun jauh disana,

Buat yang baca postingan ini, masih ada waktu untuk menikmati beragam pemandangan yang menakjubkan.
Yang membuat kita terimbas energi positif dan membuat kita senantiasa bersyukur.
Masih banyak ternyata orang yang bersusah payah hanya untuk berkumpul bersama keluarga.

Mudik, juga memberi pelajaran tentang kesabaran.
Masih banyak orang yang jauuuuuuh lebih sabar menghadapi berbagai tantangan, hambatan dan kendala dalam perjalanan, hanya untuk sebuah peristiwa : MUDIK.

Mereka diam tanpa mengeluh didalam bis yang berjejalan atau didalam kereta api yang penuh sesak, atau bahkan dijebloskan kedalam mobil boks atau ditutupi kain terpal dalam truk..

Mereka membisu sambil mengipas ngipaskan sehelai koran hanya untuk sekedar mendapatkan udara didalam bis atau kereta api yang pengap.

Mudik, menuju udik, berkendaraan apapun, pesawat terbang, kapal laut, kereta api, bis, mobil pribadi, motor, mobil barang, truk, teteeeeep aja memberi kenikmatan tersendiri.

Selamat Mudik, Selamat Idul Fitri, maaf lahir batin.

3 comments:

Tamrin-Next CEO said...

Hoho... jadi tersinggung dan tersungging pas baca postingan'y. Kemarin juga pas mudik, kehujanan di Leuwipanjang'y. Terus ongkos naek'y ampir 30% dr 3 bulang yg lalu (gak.penting.com)
Selamat ngota deh Mah. . . .
^_^.
Wilujeng boboran ^_^.

ijal said...

waaaa...


postingnya kayak choki2 mah.. panjang!


btw..


met idul fitri ya mah..

mohon maaf lahir dan batin..

taqabballallahu minna wa minkum..

aminanimoet said...

punteun ari mamah teh urang cirebon oge,,,

wah b'ati kita sama dunn mah,,,

di mana cirebon na mah,,,

kmrn mudik jg penuh pisan euy,,,