Friday, August 10, 2007

APA YANG SALAH ?

Aceng gantung diri dengan menggunakan tali kabel dikamarnya, didaerah Serang Banten. Apa pasal ?
Dia nggak mampu menyiapkan uang satu juta rupiah, yang diminta istrinya untuk penyelenggaraan acara nujuh bulanan bayi yang dikandung istrinya.

Kebiasaan yang selalu dilakukan keluarga istrinya, menekan Aceng, seorang kuli bangunan yang untuk hidup keseharian saja sangat pas pasan, sehingga tak ada jalan lain, ia nekad gantung diri karena didera rasa malu yang amat sangat.

Kata pak sopir, sebagian penduduk Serpong yang terkena musibah ditinggal mati anggota keluarganya, terjerat utang rentenir.
Apa pasal ?
Sejak hari pertama kematian anggota keluarganya sampai hari ketujuh, tetangga berdatangan untuk tahlilan.
Tak cukup hanya kopi, cemilan dan nasi dus dusan yang dibawa pulang, tetapi juga amplop yang berupa uang duka dari yang melayat juga diambil "tokoh" yang mengkoordinir tahlilan, untuk dibagikan kembali kepada mereka yang hadir di acara tahlilan.

Tak cukup sampai hari ketujuh, nanti ada pula 40 hari, 100 hari, setahun, 1000 hari.

Tak heran, kematian menjadi duka berlipat ganda.
Menyisakan kepedihan, kesedihan dan kegalauan dikejar utang, terjerat rentenir.

Seorang relasi penerima beasiswa studi di negara antah berantah harus hidup super hemat, amat sangat sederhana, hidup super ngirit, jangan jangan malah tidak memenuhi standard gizi yang dibutuhkan.
Apa pasal ?
Uang beasiswa yang diterimanya, sebagian harus dikirimkan ke ibunya dikampung.
Untuk apakah ?
Tidak hanya untuk membantu kebutuhan sang ibu keseharian atau membantu adik adiknya menempuh pendidikan di kampung, tetapi juga untuk dibagi bagikan kepada sanak kerabat, saudara dan tetangga ibunya.
Sebab, kalau ibunya lalai memberi, maka sang ibu terkasih akan dikucilkan dari pergaulan persaudaraan dan pertetanggaan........

Halah...
Apa yang salah ?

Duuuuuuuh, koq gini gini amat ya...

9 comments:

bundanya i-an said...

halah gening.. hidup teh pilihan yang membingungkan yah...smoga kita smua dijauhkan dari pilihan2 yang menyakitkan semua pihak.. amien...

Budi Wiharto said...

Wah atuh... meni sesah milah milih, teras bade nu mana heula, teu tiasa kitu dipasihan pilihan anu gampil... alim ah sapertos kitu....

Anonymous said...

Duhh meuni saredih nya mah..

di satu sisi, orang teh terbiasa memberi tuntutan pada orang lain, sementara orang2 yang diberi tuntutan ge ga kuat menerima tekanan.

Mudah2an kita jadi orang2 yang tidak suka memberikan tuntutan pd orang lain...aminnn

Anonymous said...

eh eta si sayah ophi hehehe maap lupa nulis

triembil said...

Mamah...ikutan comment ya?....itulah mah akibat dari tradisi atau adat yang menjadi kebablasan,mungkin tidak harus membuat acara nujuh bulan yang besar kan Mah?bisa ajah tumpeng seadanya dan mungkin harus di planning agak2 jauh untuk dananya kali ya Mah?itu nujuh bulan,setahu trie (maaf sekali ya Mah?) klo misal acara 40,100,1000 hari orang meninggal kan tidak ada tuntunannya ya Mah (seacra agama Islam) selain itu juga takut memberatkan untuk yang tidak mampu kan ya Mas?maaf klo keliatannya trie sok tau ya...maaf...nech Mah...

triembil said...

Mamah....add saya yah Mah?tau mau tengok trie di http://atun87.multiply.com

terimakasih Mamah......

NiLA Obsidian said...

semoga kita diberi kekuatan untuk dapat melalui semua rintangan dan cobaan dalam setiap kehidupan...semoga kita diberi keluarga dan org2 yang selalu mendukung dan mencintai kita apa adanya....

amin

pacarterbang said...

satu ketika, saya pernah mendengar ungkapan "tuhan tidak menciptakan orang miskin, manusia yang memilih dirinya miskin".

para motivator selalu bilang, kesempatan selalu berulang kali, karena kita punya kehendak bebas untuk menciptakan kesempatan.

para filsuf selalu bilang, saphere aude! lalu berpikirlah merdeka dan memilih diri ini menjadi apa.

mang karnun, tetangga saya yang miskin dan sudah meninggal selalu bilang "ieu beas jengker sore, jengker isuk. lamun euweuh, urang nu jengker".

para ustadz selalu bilang, "sabaarr..orang sabar disayang tuhan!"

lalu apa?

pasti ada pihak yang lalai, yang membut kemiskinan menjadi langgeng turun temurun. bukan karena orang miskin itu tak punya kehendak bebas dan tak mampu berpikir sendiri. tetapi mereka dimiskinkan oleh sistem yang mereka tidak mampu menghindar darinya...bukan oleh nasib atau takdir.

Anonymous said...

jawabannya sangat mudah.. INILAH HIDUP
hidup akan selalu penuh dinamika bagi setiap yang menjalaninya, jangan kita berpikir bahwa kesusahan manusia baru pada masa anda merasakan saat ini saja.

pacarterbang,
filsuf dan motivator selalu membuat kata2 bersemangat yang seakan2 kalau kita mau maju harus kita yang maju, kalo sudah maju tapi mentok berarti keta masih belum kuat majunya, dan seterusnya. akibatnya, orang akan selalu stress bila tidak berhasil atau merasakan kesusahan
jangan lupa, setelah ikhtiar masih ada takdir, jangan sampai takabur
jangan juga main cari kambing hitam dengan nyalahin siapa saja dengan gampang seperti sistem-lah, pemerintah-lah, orang kaya-lah... pokoknya salahkan siapa saja tapi bukan diri sendiri
introspeksi dan saling membantu, jangan ngomong aja kaya kritikus