Ada yang suka lihat tayangan di MetroTV nggak?
Disela sela acara atau iklan, suka muncul pernyataan pernyataan orang perorang, anggota masyarakat biasa.
Kayaknya tayangan rekaman mereka itu menjawab pertanyaan :
" Apa harapaan anda di tahun 2009 ?"
Menarik.
Jawaban umumnya dimulai dengan kalimat, harapan saya di tahun 2009 adalah........blablablablabla
Mengapa menarik ?
Coba simak deh jawaban jawabannya.
Pada umumnya, jawabannya mewakili keinginannya pribadi dan keinginan itu ditumpahkan kepada pemerintah.
Perawat menjawab, agar pemerintah lebih memperhatikan kesejahteraan perawat.
Mahasiswa menjawab, agar pemerintah menambah beasiswa untuk mahasiswa.
Pengangguran menjawab, agar pemerintah membuka banyak lapangan kerja.
( Bahkan ditambahin, lapangan kerja untuk tamatan SMA, pasti dia tamatan SMA ya )
Sopir angkot menjawab, agar pemerintah menurunkan harga BBM.
Ibu ibu menjawab, agar pemerintah menurunkan harga sembako atau menurunkan harga LPG, harga minyak tanah dlsb.
Pelajar menjawab agar pemerintah menyiapkan buku pelajaran gratis sebanyak banyaknya.
Buruh menjawab agar pemerintah menaikan UMR.
Guru bantu menjawab agar pemerintah mengangkat guru bantu menjadi PNS.
PNS menjawab agar pemerintah menaikan gaji PNS.
Beueueueueueueu...
Kasihan banget pemerintah ya...
Kayak sinterklas menjelang natal, banyaaaaaaaak banget permintaan.
Seolah olah pemerintah selama ini menganggur, nggak ngerjain apa apa.
Memang, pemerintah tuh kan abdi rakyat, ngurusin rakyat dan negara.
Ngurusin segala kebutuhan penghuni negara dan segala tetek bengek kenegaraan.
Pasti pemerintah itu sudah dan sedang dan akan melakukan apapun untuk rakyat dan negara , bukan?
Apa yang dilakukan?
Pasti ada skala prioritasnya bukan ?
Mana dulu, mana yang darurat, mana yang harus didahulukan, berdasarkan situasi, kondisi dan kemampuannya.
Baik kemampuan keuangan, pelaksanaan dan efek positifnya, bukan begitu?
Ini ?
Ngantaaaaaay alias ngantriiiiiii permintaan kepada pemerintah, disesuaikan dengan kebutuhan masing masing.
Jarang ada yang meminta kepada pemerintah, untuk kepentingan bersama.
Dan, terkesan, mereka menganggap pemerintah belum melakukan apa apa.
Sigggghhhh.....
Memang, kebanyakan orang, dalam hal apapun, lebih melihat kepada separuh gelas yang kosong, bukan kepada isinya.
Kebanyakan orang melihat satu dua ubin lantai yang kotor, nggak melihat hampir seluruh lantai aula sudah dibersihkan....hehehehehehehe.
Kalau kata orang sunda mah, mayoritas cawadan.
Juga berkarakter seperti penonton sepak bola.
Penonton sepak bola kan kerjanya ngritiiiiik aja ke pemain.
Coba jangan dioperlah, coba berdirinya disanalah, coba nangkep bolanya kearah kirilah.....
Seolah olah dia jago bermain, padahal, kalau turun kelapangan, baru 3 menit sudah hah heh hoh nggak bertenaga.
Boro boro menggiring bola, apalagi mencetak gol , iya kan ?
Jadi, mengintip tayangan yang menampilkan jawaban jawaban dari berbagai kalangan terhadap pertanyaan : "Apa harapan anda di tahun 2009?", bikin kita merenung.
Beginilah umumnya kita, mengharapkan perubahan kearah perbaikan tapi orang lain yang kudu melakukannya.
Kita menyesali nasib dan menunjuk orang lain yang bertanggung jawab atas keadaan kita.
Padahal kata pepatah, bekerja keraslah , berikhtiar dengan sempurna dan doa dimaksimalkan.
Jangan selalu berharap, berharap dan berharap, karena siapa yang berharap, pasti kecewa......iya nggaak?
Lha iyalah...masa cuma berpangku tangan dan berharap, kita akan menjadi baik??
Eh, tapi ada satu bapak masih muda tuh yang berkumis dan pas si mamah tonton, jawabannya sungguh jitu :
"Saya mengharapkan kita semua, khususnya pemuda, proaktif membangun negeri ini, ayo...kerja keras demi kejayaan bangsa dan negeri ini".
Plok plok plok plok lok...two thumbs up lah buat si bapak....yang menjawab dengan nomor urut lebih dari 1300 kayaknya tuh....
Jadi....ayo kerja keras...keluarkan seluruh potensi dalam sinergi.
Jangan saling tarik, saling mlintir, saling cibir,kampanye negatif, apalagi tawuran gontok gontokan, dan menghabiskan energi.
Kita bersinergi, menghimpun energi positif, tampilkan seluruh kemampuan kita yang terbaik untuk manfaat, demi kejayaan bangsa dan negara kita.
Siap ??????
Monday, January 05, 2009
Saturday, January 03, 2009
TAHUN 2009
Pergantian tahun telah berlalu.
Tahu apa doaku pada hari tanggal 31 desember 2008 siang bolong?
Lha koq malah doain tukang terompet ya....
Semoga jualannya laku dan habis semua dagangannya.
Hehehehehehe....abis kasihan sih.
Dimana mana tukang trompeeeeeet melulu.
Itu sepanjang jalan raya serpong dari mulai villa melati mas sampai ujung tol ke bintaro, berjejer tukang terompet, tanpa jarak lagi.
Coba, berapa puluh ribu terompet tuh.
Ada yang naik sepeda, ada yang ditanggung, ada yang pake gerobak dorong, ada yang naik motor, bahkan yang jualan kembang api, pake mobil tuh....
Waaahhhh...kasihan kan kalau nggak laku?
Dan, alhamdulillah, nggak hujan, pasti tukang terompet laku keras tuh.
Baca berita, konon malam itu 285 ribu orang menyesaki ancol.....haaaaaa????
Trus hari tanggal satunya, masih ratusan ribu manusia menjejali ancol, ratusan ribu lagi ke TMII, ratusan ribu pula ke Taman Safari, dan lebih dari 150 ribu ke Kebun Binatang Ragunan....apa nggak stress tuh semua binatang menonton lautan manusia?
Hari ini, sudah menginjak hari ketiga tahun 2009
Ini lagi merenung nih.
Kebayang kan? 2009 katanya tahun resesi ekonomi global, tahun kesulitan ekonomi global.
Gimana dengan Indonesia atuh?
Koq kayaknya mayoritas, orang orangnya adem ayem aja, nggak kepikiran apa apa, tenang tenang aja.
Walaupun, harga melambung tinggi, entah kenapa ya, rakyat kita tuh koq punya ketahanan yang luar biasa.
Nggak ada beras, makan jagung, singkong, ubi, gaplek, apaaaa aja dimakan, nggak ngedumel.
Yang biasanya ngomel ngomel atau ngedumel bahkan mereka yang "mengatas namakan penderita", iya kan ?
Atau mereka yang memang sulit tapi pengen gaya, nggak mau mengubah pola hidup atau gaya hidup menjadi lebih hemat berdasarkan skala prioritas, betul nggak?
Kesulitan ekonomi 2009?
Halah...itu diawal tahun, malah pengunjung tempat hiburan koq makin banyak ya.
Bahkan, kasat mata, itu duit malah dibuang buang.
Bikin poster, spanduk, brosur, baliho, billboard, atau....iklan di media cetak dan elektronik.
Haaaaa?
Kan kalau beneran resesi ekonomi, kesulitan keuangan global, kita harusnya sama sama berhemat tokh?
Membelanjakan duit untuk prioritas yang utama, pangan, kesehatan, pendidikan.
Bukan hanya pangan, pendidikan, kesehatan pribadi, tapi juga berbagi dengan orang orang diseputar kita, iya kan ?
Ini ?
Coba tengok, yang rekreasi malah makin heboh.
Yang buang buang duit dalam rangka "narsisme", pemujaan diri sendiri, pengiklanan diri, penampangan foto dan identitas pribadi, yang tentu saja membutuhkan biaya yang nggak sedikit, malah makin menjadi jadi.
2009 ini kan momentumnya kebetulan bersamaan dengan pemilu.
Lagipula pemilu cara baru banget.
Udah mah partainya banyaaaaaak, sampai lieur sebelum memilih.
Sistemnya juga ganti..........nyontreng orang.
Nggak kebayang, betapa pusyingnya para pemilih, yang bener bener pengen milih yang bener.
Kan harus dilihat dulu orang perorang.
Apa dan bagaimana track recordnya.
Bagaimana itikadnya, bagaimana kemungkinan upaya kerja kerasnya untuk rakyat.
Yang terjadi, adalah hafalkan nomor partai dan nomor urut orang, peun...titik.
Bu...ini kerudung...jangan lupa nanti 60-3 ya....nomor partai 60 nomor urut 3.
Pak....ini rokok buat yang kerja bakti...hafalkan 75-8 ya...nomor partai 75, nomor urut 8
Cetek banget. Nggak mendidik rakyat. Melatih suap sih iya.
Nggak heran, nanti kita dapetin yang gimanaaaaaaa gitu.
Pertama, karena memang kita semua nggak fokus ke "warning" adanya kesulitan ekonomi.
Malah keukeueueueueuh aja buang buaang duit buat masang tampang di pepohonan, pagar pagar, tembok tembok dlsb.
Bukankah kita harus fokus ke nolong orang yang kesulitan dulu, atau mengutamakan yang kesulitan ekonomi dulu, sebelum menjadi "narsis" alias egois ?
Agar kehidupan kita semua jauh lebih baik dan diberkahi kan kita nggak boleh individualis bukan ?
Kedua, cara merebut simpatinya koq ya gampangan banget betul.
Bagi bagi amplop, bagi bagi kerudung, sembako, rokok, makan siang dll dlsb.
Kapan rakyat mendapat pembelajaran untuk memilih yang baik dan benar ?
Ada nggak ya kandidat yang nyumbang benerin infrastruktur kedaerah tertentu?
Bikinin jalan keq, jembatan keq.
Ada nggak ya, kandidaat yang nyumbang buat pendidikan?
Beliin buku buat perustakaan keq, benerin WC sekolah keq, atau..bahkan nambah honor guru bantu?
Atau malah bikin sekolahannya sekalian, renovasi gede gedean ?
Ada nggak ya, kandidat yang bantu program kesehatan?
Duitnya dititipin di RS keq, di Puskesmas keq...biar yang nggak mampu bisa leluasa berobat?
Atau bantu program perbaikan gizi balita?
Ada nggak ya, kandidat yang ngurusin anak jalanan?
Bikinin rumah singgah keq, nyiapin pelatihan keq.
Ada nggak ya, kandidat yang mengentaskan pedagang asong jadi pedagang mukim menetap diwarung yang legal?
Ada nggak ya kandidat yang nyumbang truk sampah atau menanam pepohonan untuk ditanam ditempat yang seharusnya memberi kesan teduh dan memberi kontribusi positif kepada lingkungan?
Ada nggak ya kandidat yang sponsorin pengerukan sampah sungai?
Atau pembersihan parit dan gorong gorong?
Ada nggak ya kandidat yang bikin panti sosial, dapur umum atau pelatihan ketrampilan bagi ibu ibu di kampung kampung agar mandiri secara ekonomi?
Ada nggak ya kandidat yang bantuin pencetakan buku untuk tunanetra atau program apa aja yang membantu disable yang lain?
Coba....malah buang buang duit buat pasang tampang dimana mana.
Sampai sekarang...cara seperti itu nggak efektif tuh ( kata orang orang...nggak ngepek....)
Malah bikin sareukseuk, sepet mata, dan boro boro diinget siapa dia, nyampah pula.
Lain halnya kalau benerin jalan ke desa, atau bikin jembatan rusak, atau memakmurkan desa terpencil dengan meningkatkan peluang gerak penduduk, pasti diinget tuh sama se desa dan desa desa tetangganya pula.
2009, apakah kita akan diberkahi atau tidak?
Bergantung kepada niat, ikhtiar, kesungguhan, ketulusan, keikhlasan, pengabdian, perbuatan kita semua bukan?
Kalau mau rakyat sejahtera adil bahagia, ya jangan egois dong ah.
Tahu apa doaku pada hari tanggal 31 desember 2008 siang bolong?
Lha koq malah doain tukang terompet ya....
Semoga jualannya laku dan habis semua dagangannya.
Hehehehehehe....abis kasihan sih.
Dimana mana tukang trompeeeeeet melulu.
Itu sepanjang jalan raya serpong dari mulai villa melati mas sampai ujung tol ke bintaro, berjejer tukang terompet, tanpa jarak lagi.
Coba, berapa puluh ribu terompet tuh.
Ada yang naik sepeda, ada yang ditanggung, ada yang pake gerobak dorong, ada yang naik motor, bahkan yang jualan kembang api, pake mobil tuh....
Waaahhhh...kasihan kan kalau nggak laku?
Dan, alhamdulillah, nggak hujan, pasti tukang terompet laku keras tuh.
Baca berita, konon malam itu 285 ribu orang menyesaki ancol.....haaaaaa????
Trus hari tanggal satunya, masih ratusan ribu manusia menjejali ancol, ratusan ribu lagi ke TMII, ratusan ribu pula ke Taman Safari, dan lebih dari 150 ribu ke Kebun Binatang Ragunan....apa nggak stress tuh semua binatang menonton lautan manusia?
Hari ini, sudah menginjak hari ketiga tahun 2009
Ini lagi merenung nih.
Kebayang kan? 2009 katanya tahun resesi ekonomi global, tahun kesulitan ekonomi global.
Gimana dengan Indonesia atuh?
Koq kayaknya mayoritas, orang orangnya adem ayem aja, nggak kepikiran apa apa, tenang tenang aja.
Walaupun, harga melambung tinggi, entah kenapa ya, rakyat kita tuh koq punya ketahanan yang luar biasa.
Nggak ada beras, makan jagung, singkong, ubi, gaplek, apaaaa aja dimakan, nggak ngedumel.
Yang biasanya ngomel ngomel atau ngedumel bahkan mereka yang "mengatas namakan penderita", iya kan ?
Atau mereka yang memang sulit tapi pengen gaya, nggak mau mengubah pola hidup atau gaya hidup menjadi lebih hemat berdasarkan skala prioritas, betul nggak?
Kesulitan ekonomi 2009?
Halah...itu diawal tahun, malah pengunjung tempat hiburan koq makin banyak ya.
Bahkan, kasat mata, itu duit malah dibuang buang.
Bikin poster, spanduk, brosur, baliho, billboard, atau....iklan di media cetak dan elektronik.
Haaaaa?
Kan kalau beneran resesi ekonomi, kesulitan keuangan global, kita harusnya sama sama berhemat tokh?
Membelanjakan duit untuk prioritas yang utama, pangan, kesehatan, pendidikan.
Bukan hanya pangan, pendidikan, kesehatan pribadi, tapi juga berbagi dengan orang orang diseputar kita, iya kan ?
Ini ?
Coba tengok, yang rekreasi malah makin heboh.
Yang buang buang duit dalam rangka "narsisme", pemujaan diri sendiri, pengiklanan diri, penampangan foto dan identitas pribadi, yang tentu saja membutuhkan biaya yang nggak sedikit, malah makin menjadi jadi.
2009 ini kan momentumnya kebetulan bersamaan dengan pemilu.
Lagipula pemilu cara baru banget.
Udah mah partainya banyaaaaaak, sampai lieur sebelum memilih.
Sistemnya juga ganti..........nyontreng orang.
Nggak kebayang, betapa pusyingnya para pemilih, yang bener bener pengen milih yang bener.
Kan harus dilihat dulu orang perorang.
Apa dan bagaimana track recordnya.
Bagaimana itikadnya, bagaimana kemungkinan upaya kerja kerasnya untuk rakyat.
Yang terjadi, adalah hafalkan nomor partai dan nomor urut orang, peun...titik.
Bu...ini kerudung...jangan lupa nanti 60-3 ya....nomor partai 60 nomor urut 3.
Pak....ini rokok buat yang kerja bakti...hafalkan 75-8 ya...nomor partai 75, nomor urut 8
Cetek banget. Nggak mendidik rakyat. Melatih suap sih iya.
Nggak heran, nanti kita dapetin yang gimanaaaaaaa gitu.
Pertama, karena memang kita semua nggak fokus ke "warning" adanya kesulitan ekonomi.
Malah keukeueueueueuh aja buang buaang duit buat masang tampang di pepohonan, pagar pagar, tembok tembok dlsb.
Bukankah kita harus fokus ke nolong orang yang kesulitan dulu, atau mengutamakan yang kesulitan ekonomi dulu, sebelum menjadi "narsis" alias egois ?
Agar kehidupan kita semua jauh lebih baik dan diberkahi kan kita nggak boleh individualis bukan ?
Kedua, cara merebut simpatinya koq ya gampangan banget betul.
Bagi bagi amplop, bagi bagi kerudung, sembako, rokok, makan siang dll dlsb.
Kapan rakyat mendapat pembelajaran untuk memilih yang baik dan benar ?
Ada nggak ya kandidat yang nyumbang benerin infrastruktur kedaerah tertentu?
Bikinin jalan keq, jembatan keq.
Ada nggak ya, kandidaat yang nyumbang buat pendidikan?
Beliin buku buat perustakaan keq, benerin WC sekolah keq, atau..bahkan nambah honor guru bantu?
Atau malah bikin sekolahannya sekalian, renovasi gede gedean ?
Ada nggak ya, kandidat yang bantu program kesehatan?
Duitnya dititipin di RS keq, di Puskesmas keq...biar yang nggak mampu bisa leluasa berobat?
Atau bantu program perbaikan gizi balita?
Ada nggak ya, kandidat yang ngurusin anak jalanan?
Bikinin rumah singgah keq, nyiapin pelatihan keq.
Ada nggak ya, kandidat yang mengentaskan pedagang asong jadi pedagang mukim menetap diwarung yang legal?
Ada nggak ya kandidat yang nyumbang truk sampah atau menanam pepohonan untuk ditanam ditempat yang seharusnya memberi kesan teduh dan memberi kontribusi positif kepada lingkungan?
Ada nggak ya kandidat yang sponsorin pengerukan sampah sungai?
Atau pembersihan parit dan gorong gorong?
Ada nggak ya kandidat yang bikin panti sosial, dapur umum atau pelatihan ketrampilan bagi ibu ibu di kampung kampung agar mandiri secara ekonomi?
Ada nggak ya kandidat yang bantuin pencetakan buku untuk tunanetra atau program apa aja yang membantu disable yang lain?
Coba....malah buang buang duit buat pasang tampang dimana mana.
Sampai sekarang...cara seperti itu nggak efektif tuh ( kata orang orang...nggak ngepek....)
Malah bikin sareukseuk, sepet mata, dan boro boro diinget siapa dia, nyampah pula.
Lain halnya kalau benerin jalan ke desa, atau bikin jembatan rusak, atau memakmurkan desa terpencil dengan meningkatkan peluang gerak penduduk, pasti diinget tuh sama se desa dan desa desa tetangganya pula.
2009, apakah kita akan diberkahi atau tidak?
Bergantung kepada niat, ikhtiar, kesungguhan, ketulusan, keikhlasan, pengabdian, perbuatan kita semua bukan?
Kalau mau rakyat sejahtera adil bahagia, ya jangan egois dong ah.
Subscribe to:
Posts (Atom)