Setiap weekend, ibu ibu di kampung kampung seputar Serpong, sibuk minta duit, baik ke suaminya, atau ke saudaranya atau ke majikannya.
Besarannya sih nggak seberapa, “cuma” tiga ribu atau lima ribu rupiah saja.
Untuk apakah ?
Mereka kan “separuh wajib” ikut pengajian, dengerin ustadz atau ustadzah “ngajarin yang baik baik”.
Kalau nggak hadir, ya dikucilkan, ya diomongin, ya dicap kapir…..
Nah, apa hubungannya dengan duit lima ribuan ?
Ternyata, kalau ikut pengajian, “harus” ngumpulin duit, begitu katanya….
Halah, kayak konser musik aja, pake tiket masuk
Kayak mau nonton bioskop aja, harus modal duit……
Kalau yang rajin ikut dengerin “yang baik baik’, nanti masuk surga
Kalau yang nggak punya duit?
Ya ngutang aja …atau…ya itulah, orang miskin mah dilarang masuk surga kali ya…..
Uuuugggh…jahat amat ya….
Ngajarin yang baik baik darimana horeng??
Sekarang udah hampir pertengahan ramadhan….naaaaaah, “pak ustadz” dikampung kampung, kata pak sopir, akan gencar “mengejar” penduduk….
”yakatnya maaanaa”…maksudnya zakat kali ya……
Dan, kalau mau masuk surga, zakatnya wajib dikasihin pak ustadz….
Halah…trus dikemanain itu duit ?
Kata pak sopir sih…..yaaaaa, buat “pak ustadz”….
Ueuleuh euleuh…koq dibiarin sih ?
Dari postingan tentang APA YANG SALAH terdahulu, pacar terbang si empunya blog remehtemeh, ngasih comment yang patut direnungkan.
Diantaranya katanya :Tuhan tidak menciptakan orang miskin, manusia yang memilih dirinya miskin. Kesempatan selalu berulang kali, karena kita punya kehendak bebas untuk menciptakan kesempatan. Pasti ada yang lalai, yang membuat kemiskinan menjadi langgeng turun temurun. Bukan karena orang miskin itu tidak punya kehendak bebas dan tak mampu berpikir sendiri, tetapi mereka dimiskinkan oleh sistem yang mereka tidak mampu menghindar darinya, bukan oleh nasib atau takdir.
Naaaah tuuuuh….bener kaaaaan ??
Ada sistem yang perlu dibenahi, dibenerkan, dilurus luruskan agar jangan bengkok……
Siapa yang bisa membenerkan sistem itu ?
Kita ? Para penguasa ?
Sok atuh para pemegang kendali, harus bener bener memegang amanah teh…nanti di akherat ditanyain lho……..
H.iiiiyyyy ceyyyeemmm...
Apakah kita, orang biasa biasa saja, mampu mengubah sistem?.......
Aaaaah, si mamah sih tetep berpikir positif aja koq...
Kita berkontribusi positif aja, sekecil apapun, semampu kita, iya nggak ???..
Salah satunya, mungkin kita harus belajar berani menegur siapapun, kapanpun, dimanapun yang melanggar aturan, melanggar bebenaran...
Ayo, berani nggak????.........
Kata orang asing, orang Indonesia itu toleransinya tinggi.
Saking tingginya, maka yang salah atau melanggar aturan juga dibiarkan saja.........
Halah.....ini mah toleransi negatif, nggak positif.
Tapi diingat ingat iya juga kan ?
Coba, pernah nggak ada yang berani menegur sopir angkot yang mangkal diperempatan?
Yang mangkal persis dibawah rambu lalu lintas dilarang stop/S merah coret?
Ada nggak yang berani negur yang merokok ditempat umum ? Membuang sampah sembarangan? Merusak fasilitas umum? Ada nggak yang berani menegur orang yang menerobos antrian? Ada nggak ?????
Yuk ah kita belajar berkontribusi positif terhadap perubahan sistem yang memang harus dibenahi........
Salam
Monday, September 24, 2007
Tuesday, September 18, 2007
BADUY
Tiba tiba saja 4 orang lelaki berpakaian hitam hitam tanpa alas kaki dengan menyandang gembolan menerobos masuk halaman dalam rumah temanku yang kebetulan pagarnya terbuka.
Halah...siapa mereka ?
Mau apa memasuki daerah privat ?
Secara halus mereka digiring kembali ke halaman depan oleh suami temanku.....
Bapak Gede ! Bapak Gede ! ,seru mereka....
Pas temanku melongok keluar..
Ibu Gede ! Ibu Gede...seru mereka.....
Apa ya maksudnya ?
Selanjutnya, mereka bertutur, sambil duduk bersila ditanah , sementara "Bapak Gede" harus duduk dikursi , karena katanya "pamali" duduk setara mereka.
Konon telah 4 hari 4 malam turun gunung, keluar dari perkampungan mereka, nun jauh didaerah Banten sana, menyusuri jalan tanpa alas kaki, sekedar hanya ingin menjalankan perintah tetua mereka.
Bahwa sudah 3 kali berturut turut, tetua mereka mendapat wangsit, dalam mimpinya ditampakkan wajah seseorang yang harus ditemui dan mendapat anugrah senjata sakti mandraguna bernama senjata merah delima.
Konon, senjata tersebut sudah banyak ditawar orang seharga jutaan, puluhan juta, ratusan juta rupiah.....
ck, ck, ck, ck....senjata apapula ini ya...
Berulang mereka menyampaikan, bahwa "Bapak Gede" bakal kaduhung, mun teu mawa ieu pusaka ( akan menyesal kalau tak mengambil benda pusaka ), atau membeli beberapa kerajinan tangan yang juga mereka bawa.
Dialog yang sepenuhnya terjadi dalam bahasa sunda "mirip bahasa baduy", sementara temanku yang jawa kebetulan saja besar di Bandung , seperti menjurus kearah pemaksaan pembelian "benda pusaka"........
Untung temanku teringat salah seorang relasi yang asli Banten......
Dan ketika dihubungi, dengan tegas mengatakan, jangan dibeli.
Orang baduy tidak demikian, beri saja sedikit uang, jangan banyak banyak, nanti mereka kembali , usir dengan cara halus.
Dan ketika ditolak, dan diberi uang 20 ribu untuk membeli minuman dijalan, mereka toh menerimanya.
Apalagi ketika ditawari makan minum, mereka dengan sukacita menerima bungkusan makanan.
Si mamah sih penasaran banget, bagaimana itu tetua mereka mendeskripsikan wajah "Bapak Gede" yang muncul dalam wangsitnya kepada utusannya, sehingga mereka yakin 100 % temankulah " Bapak dan Ibu Gede"....
Apakah wajah dalam mimpinya itu difoto?
Hehehehehe....
Duuuuh....
Jadi teringat orang baduy asli, yang begitu setia menjunjung nilai nilai luhur.
Yang begitu konsisten menjaga alam dan lingkungan
Yang memang suka berjalan kaki berhari hari dari tempat tinggalnya, hanya sekedar ingin mempersembahkan hasil palawija dari kampung halamannya kepada petinggi nagara yang mereka yakini sebagai suatu kewajiban sebagai penduduk, tanpa pamrih, tanpa mengharapkan apapun jua, tanpa menerima imbalan.
Apalagi ini cuma duit 20 ribu.
Orang Baduy asli sama sekali nggak pernah mau menerima apapun.
Sungguh mereka menjaga martabat kelompoknya secara turun temurun.
Jadi terkenang orang baduy.
Yang konon merupakan penduduk paling kaya di seantero banten, bahkan di Indonesia.
Boro boro minta duit, memberi adalah kebiasaan mereka.
Bayangkan, mereka, orang Baduy asli, rajin bercocok tanam, rajin menjual hasil tanamannya ke"kota", tanpa membutuhkan apapun dari "kota" untuk hidupnya kecuali garam, ikan asin, terasi....
Bisa dibayangkan, berapa besar tabungan mereka sepanjang hidupnya.
Duh....
Koq tega teganya ya merusak nilai budaya Baduy yang begitu indah .
Halah...siapa mereka ?
Mau apa memasuki daerah privat ?
Secara halus mereka digiring kembali ke halaman depan oleh suami temanku.....
Bapak Gede ! Bapak Gede ! ,seru mereka....
Pas temanku melongok keluar..
Ibu Gede ! Ibu Gede...seru mereka.....
Apa ya maksudnya ?
Selanjutnya, mereka bertutur, sambil duduk bersila ditanah , sementara "Bapak Gede" harus duduk dikursi , karena katanya "pamali" duduk setara mereka.
Konon telah 4 hari 4 malam turun gunung, keluar dari perkampungan mereka, nun jauh didaerah Banten sana, menyusuri jalan tanpa alas kaki, sekedar hanya ingin menjalankan perintah tetua mereka.
Bahwa sudah 3 kali berturut turut, tetua mereka mendapat wangsit, dalam mimpinya ditampakkan wajah seseorang yang harus ditemui dan mendapat anugrah senjata sakti mandraguna bernama senjata merah delima.
Konon, senjata tersebut sudah banyak ditawar orang seharga jutaan, puluhan juta, ratusan juta rupiah.....
ck, ck, ck, ck....senjata apapula ini ya...
Berulang mereka menyampaikan, bahwa "Bapak Gede" bakal kaduhung, mun teu mawa ieu pusaka ( akan menyesal kalau tak mengambil benda pusaka ), atau membeli beberapa kerajinan tangan yang juga mereka bawa.
Dialog yang sepenuhnya terjadi dalam bahasa sunda "mirip bahasa baduy", sementara temanku yang jawa kebetulan saja besar di Bandung , seperti menjurus kearah pemaksaan pembelian "benda pusaka"........
Untung temanku teringat salah seorang relasi yang asli Banten......
Dan ketika dihubungi, dengan tegas mengatakan, jangan dibeli.
Orang baduy tidak demikian, beri saja sedikit uang, jangan banyak banyak, nanti mereka kembali , usir dengan cara halus.
Dan ketika ditolak, dan diberi uang 20 ribu untuk membeli minuman dijalan, mereka toh menerimanya.
Apalagi ketika ditawari makan minum, mereka dengan sukacita menerima bungkusan makanan.
Si mamah sih penasaran banget, bagaimana itu tetua mereka mendeskripsikan wajah "Bapak Gede" yang muncul dalam wangsitnya kepada utusannya, sehingga mereka yakin 100 % temankulah " Bapak dan Ibu Gede"....
Apakah wajah dalam mimpinya itu difoto?
Hehehehehe....
Duuuuh....
Jadi teringat orang baduy asli, yang begitu setia menjunjung nilai nilai luhur.
Yang begitu konsisten menjaga alam dan lingkungan
Yang memang suka berjalan kaki berhari hari dari tempat tinggalnya, hanya sekedar ingin mempersembahkan hasil palawija dari kampung halamannya kepada petinggi nagara yang mereka yakini sebagai suatu kewajiban sebagai penduduk, tanpa pamrih, tanpa mengharapkan apapun jua, tanpa menerima imbalan.
Apalagi ini cuma duit 20 ribu.
Orang Baduy asli sama sekali nggak pernah mau menerima apapun.
Sungguh mereka menjaga martabat kelompoknya secara turun temurun.
Jadi terkenang orang baduy.
Yang konon merupakan penduduk paling kaya di seantero banten, bahkan di Indonesia.
Boro boro minta duit, memberi adalah kebiasaan mereka.
Bayangkan, mereka, orang Baduy asli, rajin bercocok tanam, rajin menjual hasil tanamannya ke"kota", tanpa membutuhkan apapun dari "kota" untuk hidupnya kecuali garam, ikan asin, terasi....
Bisa dibayangkan, berapa besar tabungan mereka sepanjang hidupnya.
Duh....
Koq tega teganya ya merusak nilai budaya Baduy yang begitu indah .
Subscribe to:
Posts (Atom)