Monday, September 24, 2007

APA YANG SALAH PART TWO

Setiap weekend, ibu ibu di kampung kampung seputar Serpong, sibuk minta duit, baik ke suaminya, atau ke saudaranya atau ke majikannya.
Besarannya sih nggak seberapa, “cuma” tiga ribu atau lima ribu rupiah saja.

Untuk apakah ?
Mereka kan “separuh wajib” ikut pengajian, dengerin ustadz atau ustadzah “ngajarin yang baik baik”.
Kalau nggak hadir, ya dikucilkan, ya diomongin, ya dicap kapir…..

Nah, apa hubungannya dengan duit lima ribuan ?
Ternyata, kalau ikut pengajian, “harus” ngumpulin duit, begitu katanya….

Halah, kayak konser musik aja, pake tiket masuk
Kayak mau nonton bioskop aja, harus modal duit……

Kalau yang rajin ikut dengerin “yang baik baik’, nanti masuk surga
Kalau yang nggak punya duit?
Ya ngutang aja …atau…ya itulah, orang miskin mah dilarang masuk surga kali ya…..

Uuuugggh…jahat amat ya….
Ngajarin yang baik baik darimana horeng??

Sekarang udah hampir pertengahan ramadhan….naaaaaah, “pak ustadz” dikampung kampung, kata pak sopir, akan gencar “mengejar” penduduk….
”yakatnya maaanaa”…maksudnya zakat kali ya……
Dan, kalau mau masuk surga, zakatnya wajib dikasihin pak ustadz….

Halah…trus dikemanain itu duit ?
Kata pak sopir sih…..yaaaaa, buat “pak ustadz”….

Ueuleuh euleuh…koq dibiarin sih ?

Dari postingan tentang APA YANG SALAH terdahulu, pacar terbang si empunya blog remehtemeh, ngasih comment yang patut direnungkan.
Diantaranya katanya :Tuhan tidak menciptakan orang miskin, manusia yang memilih dirinya miskin. Kesempatan selalu berulang kali, karena kita punya kehendak bebas untuk menciptakan kesempatan. Pasti ada yang lalai, yang membuat kemiskinan menjadi langgeng turun temurun. Bukan karena orang miskin itu tidak punya kehendak bebas dan tak mampu berpikir sendiri, tetapi mereka dimiskinkan oleh sistem yang mereka tidak mampu menghindar darinya, bukan oleh nasib atau takdir.

Naaaah tuuuuh….bener kaaaaan ??
Ada sistem yang perlu dibenahi, dibenerkan, dilurus luruskan agar jangan bengkok……
Siapa yang bisa membenerkan sistem itu ?
Kita ? Para penguasa ?

Sok atuh para pemegang kendali, harus bener bener memegang amanah teh…nanti di akherat ditanyain lho……..
H.iiiiyyyy ceyyyeemmm...

Apakah kita, orang biasa biasa saja, mampu mengubah sistem?.......
Aaaaah, si mamah sih tetep berpikir positif aja koq...

Kita berkontribusi positif aja, sekecil apapun, semampu kita, iya nggak ???..
Salah satunya, mungkin kita harus belajar berani menegur siapapun, kapanpun, dimanapun yang melanggar aturan, melanggar bebenaran...

Ayo, berani nggak????.........

Kata orang asing, orang Indonesia itu toleransinya tinggi.
Saking tingginya, maka yang salah atau melanggar aturan juga dibiarkan saja.........

Halah.....ini mah toleransi negatif, nggak positif.
Tapi diingat ingat iya juga kan ?

Coba, pernah nggak ada yang berani menegur sopir angkot yang mangkal diperempatan?
Yang mangkal persis dibawah rambu lalu lintas dilarang stop/S merah coret?

Ada nggak yang berani negur yang merokok ditempat umum ? Membuang sampah sembarangan? Merusak fasilitas umum? Ada nggak yang berani menegur orang yang menerobos antrian? Ada nggak ?????

Yuk ah kita belajar berkontribusi positif terhadap perubahan sistem yang memang harus dibenahi........

Salam

1 comment:

Anonymous said...

Meuni rudet pisan ya Mah..hehehe. Banyak aturan yang salah kaprah tapi sudah jadi kebiasaan umum..gimana solusi nya dong mah..Wass, Sujiwo.