Monday, December 28, 2009

ENLIGHTMENT

Heeee...keren ya judulnya
Enlightment....
Pencerahan .....

Kata ini muncul begitu tiba tiba, ketika membaca berita komentar MUI tentang infotainment.
Yang bikin Infotainment itu "haram" untuk ditonton adalah kontennya, isinya.

Sudah lama diantara kita banyak yang sepakat, bahwa tayangan diberbagai media elektronik, tidak menjunjung program enlightment, pencerahan.
Sinetron yang beratus ratus episode, dikerjakan dengan berpeluh, menguras energi, pembuatannya berjam jam dalam sehari dari pagi sampai pagi, unsur pendidikannya total dikesampingkan.
Eeeh...infotainment juga demikian.
Dimana unsur enlightmentnya ? Pencerahannya? Membangun karakter bangsa nya?

Uang, uang, uang.
Modal, modal, modal,
Bisnis, bisnis, bisnis.
Keuntungan, keuntungan, keuntungan.
Pendapat, ditentukan oleh pendapatan.
Haaaaaaaa?????

Apa yang disuguhkan kepada rakyat, sangat bergantung kepada keinginan pemilik modal.
Apa yang diinginkan pemilik modal, bergantung kepada rating.
Siapa yang menentukan tinggi rendahnya rating?
Ya rakyat sendiri.....karena menontonnya.

Heeee...jadi kayak lingkaran setan ya.

Jadi, kalau kita menuding program pembodohan rakyat, program nggak bikin pencerahan, sebetulnya rakyat juga berkontribusi .....iya kan ?

Pemilik modal, pebisnis, umumnya kan boro boro inget Character building, pembangunan karakter bangsa, nilai nilai moral yang luhur.

Buat mereka, perputaran uang kudu menghasilkan, makin besar, makin besar, makin menggurita, akhirnya menjerat, mencekik rakyat hingga tak berdaya.

Kalau sudah demikian, kapan rakyat pinternya ya.
Kalau rakyat nggak pinter dan bagus, kapan muncul pemimpin yang bagus dong.
"The teacher will come when the pupil is ready "

Nah...makin kayak lingkaran setan lagi dong.
Kapan majunya bangsa ini...

Kita, sendirian, bisa berkontribusi positif, dengan membantu pencerahan, bagaimanapun caranya.
Paling tidak, pindah channel kalau infotainment mulai mengutak ngatik, mengobrak abrik, mempertontonkan dapur orang, ranjang orang dengan gamblang.
Pokoknya, kalau sudah mulai berghibah apalagi beraroma fitnah, tinggalkan saja.

Kita, bisa memilih tayangan yang akan menambah wawasan, berbuah kebahagiaan dan kesejahteraan, memupuk kearifan, membuat kita bisa menggapai keselamatan dan kemuliaan dunia akhirat.

Tontonan, harus yang menuntun.
Tayangan, harus yang mencerahkan.

Selama ini, secara nggak sengaja, kita, bersama sama sudah mengumpulkan kredit negatif, ialah membuang waktu dengan menonton acara yang nggak mengandung unsur pencerahan.
Kita, malah menambah dosa dengan "menikmati" tayangan yang mengandung unsur ghibah atau fitnah.

Sebetulnya, kita, adalah pelaku enlightment sejati.

Lantas.....
Apakah kita masih mau nonton sinetron atau infotainment yang nggak mengandung unsur pencerahan ?

Salam

2 comments:

Myus said...

ya beginilah klo kita hidup dalam sistem kapitalis, semuanya berorientasi kapital, modal, uang...
Iya klo ada orang yang peduli n sadar kayak mamah gini, wah bagus...,namun pada kenyataannya tidak..
Untuk meminimalkan atu bahkan menghilangkan semacam itu, sudah saatnya kita berjuang tuk keluar dari lingkaran sistem setan kapitalis ini, beralih ke solusi yang paling solutif, yaitu sistem Islam, tidak ada tandingannya...

Mamah Ani said...

hehehe...
makanya, kitalah pelaku sejati enlightment
mulai dari diri sendiri...

solusi terbaik ialah hindarkan tontonan yang bukan tuntunan

bukan begitu???