Tuesday, April 10, 2007

KEKERASAN

Lagi lagi terulang, ada yang mati karena digebukin senior.
Aduuuuuh, koq nggak belajar belajar ya...
(.eh, justru katanya itu hasil pelajaran dari senior : melakukan tindak kekerasan )....
Gustiiiii, ampuni dosa kita semua...

Nggak bisa dibayangkan, apa rasanya para senior menghajar yuniornya sampai ambruk bahkan sampai mati.
Itu mah asli setan atawa iblis yang menguasai.

Bayangkan, dihadapan kita ada orang yang berdiri ketakutan, nggak berdaya, nggak boleh menangkis atau melawan, dihantam dibagian yang paling diutamakan untuk kelangsungan hidup manusia, , jantung, ulu hati, alat vital, leher, kepala.
Maksoed loe apa sih ???
Boro boro belajar anatomi, belajar menghargai mahluk hidup juga nggak tuh.

Bagi siapapun yang "waras " bin "normal", apalagi bagi seorang ibu yang 9 bulan gundal gendol menantikan buah hati dengan suka cita, kemudian menghadapi maut dan berjuang sekuat tenaga mengedan mengeluarkan jabang bayi , mengelus, mengusap, menimang, menyusui, menina bobokan, mendoakan, merawat, mendidik dengan sepenuh jiwa, dengan kecintaan dan keikhlasan yang tiada taranya, sudah besar....eeeeh, dihajar orang, sama sekali nggak bisa dimengerti........
Ampyuuuuuun gustiiiiii, dimana hati nuraninya ya....

Menurutku, itu lingkungan harus diobrak abrik, harus dibuyarkan ( kalau memang masih tetep tidak dibubarkan ).
Karena memang "kekerasan" sudah menjadi budaya disana.
Kekerasan sudah dianggap hal yang lumrah dan wajar.
Bahkan menjadi kebanggaan alumni yang lolos dari maut dan merasa kuat fisik mental.

Lihat saja reaksi kelompok disana yang menolak kehadiran wartawan, atau reaksi "tidak menerima" adanya hukuman apalagi dikeluarkan terhadap pelaku kekerasan.......
Ini dunia lain kali ya.... ( banyak lho tempat tempat yang menganut budaya kekerasa ini ....tidak hanya dikampus yang lage rame disorot media....)

Jadi, jangan heran, ketika anggota kelompok kekerasan tersebut kembali kelingkungan yang "normal", mereka masih menganggap kekerasan itu normal normal saja, sah sah saja.
Maka ketika mereka memegang kendali menjadi penguasa....naaaah, bisa diterka apa jadinya.......
Gustiiiiii....
Apakah ini juga salah satu sebab, kenapa keberkahanMu sulit dicapai penduduk dibumi pertiwi ini, bencana dan musibah datang silih berganti ???

Kekerasan, ditinjau dari segi apapun juga, bener bener nggak ada deh manfaatnya. Bukan hanya bisa merusak fisik, mental juga jadi "berbeda" koq....

Tapi, kenapa manusia itu mempertahankan budaya kekerasan terus menerus ya ?
Untuk melampiaskan kekecewaan ?
Melampiaskan rasa frustrasi ?
Melampiaskan ego atau rasa takut atau rasa minder ?
Melampiaskan energi ?

Atuh kasih aja cangkul, suruh macul....
Paling nggak tanah jadi gembur.......
Suruh aja bikin jalan tanah atau jalan aspal ke desa desa, biar jadi manfaat....
Suruh aja bikin jembatan, jadi dua daerah bisa dipertemukan....

Masih baaaaanyak cara mengeluarkan energi terpendam yang penuh manfaat bukan ? Paling enteng, suruh membanting adonan roti, biar rotinya mengembang sempurna....heuheuheuheu...
Aatau memerah susu sapi kali ya, biar susunya banyak dan cepat keluar....
Huahuahaaa

Dari dulu bahkan sampai kapanpun, baik nenek moyangku maupun keturunanku, Insya Allah nggak ada deh yang menyerempet menyerempet ke alam "kekerasan".

Katanya, kekerasan menggembleng mental....
Katanya kekerasan menegakkan disiplin.
Katanya kekerasan menguatkan fisik dan daya tahan.
Katanya kekerasan meningkatkan out put....

Aaaaaah, buktinya aku dibesarkan dalam lingkungan segalanya dijalanin dengan kelembutan dan kesantunan, penuh kasih sayang, dan kayaknya semuanya bisa disiplin, bisa kuat fisik mentalnya, dan bisa berprestasi mempersembahkan yang terbaik koq Pleueueueus, bisa menghargai dan respek sama siapapun ( halah narsis euy....)....

Insya Allah senantiasa demikian.
Yang jelas, menurutku, kekerasan itu akan meninggalkan trauma , yang terselubung, dibawah sadar.
Dampaknya akan muncul nggak dalam waktu deket deket, tapi jauuuuuuuh, suatu saat nanti.
Secara spontan, orang akan bereaksi apakah jadi minder, kurang pede, loyo, letoy, lesu, atau malah jadi brutal, bengis, biadab, nggak punya hati nurani, nggak bisa empati, nggak tepo seliro, dll, dlsb....
Iiiiih, jangan sampai deh begitu....

Makanya, ini diluar cerita tentang kekerasan pada mahluk dewasa, buat yang punya anak, ( eh, buat yang lainnya juga lho, kan suka berinteraksi dengan anak ).... hati hatiiiiiii banget ya....
Jangan dibiasakan melakukan kekerasan , baik tindakan fisik ( mencubit, menjewer, menjitak, memukul, atau menampar ) atau melecehkan secara mental dengan kata kata, tindakan, tatapan....

Anak itu karunia Allah yang terindah.
Anak siapapun dia, kita semua wajib turut menumbuh kembangkannya dengan sebaik baiknya dengan cara memberi kasih sayang seutuhnya dan menghargai serta menghormatinya sebagai mahluk Allah yang dititipkanNya kepada kita....
Setuju nggak negh ????

12 comments:

Fie said...

Kita sebagai ibu teh meni miris nya Mah ... dari kecil dipusti2 sampe besar ... eeeh dah besar disiksa orang ... pikasebeleun pisan eta jalmi teh .....brrrrrrr

ideph said...

setujuuu...hidup mamah ani...Mah kalo sekolahnya ga dibubarin Mamah ani aja yang jadi rektornya...

Anonymous said...

mamah ani,
met kenal ya mah.

iya mah kejadian di sekolah itu bikin miris. melihat videonya bikin meringis rasanya sakit hati. lha klo anak kita di bgitukan bijihmana? jnagan sampe ya tuhan.
lha ini malah dilegalkan lagi. gak jelas memang batasan pendidikan militer itu. yg ada cuman mewariskan dendam

-maknyak-
http://serambirumahkita.blogspot.com

Lia said...

satuju...budak teh nu didama2 dipusti2, ulah ateul komo nyeri...duh. Malah mah sakalina di geunggeureuhkeun batur geasa teu rido, kantenan diambekan sanajan ku bapana ge ulah asa na teh :). Mugi teu kajantenan deui.

Wilujeng pensiun Mah...ngiring bingah...

sibedegong said...

kejahatan tak akan punah oleh kekerasan. karena kekerasan adalah kejahatan itu sendiri.

Ryu`s Mom said...

Bener ya mah...saya jadi instrospeksi diri deh abis baca postingan si Mamah...

NiLA Obsidian said...

semalem nonton TOPIK di SCTV....
ghhrhhh.....speechless...

ku indung mah meni di keukeupan budak teh...naha di sakolakeun kalahka di gebugan ku batur?

heeuuuuhhhhhh......

Bundanya Tiara said...

mamah...iya ih meni ngenes denger cerita si korban itu....ga belajar-belajar ya mereka............:-(. Gimana coba perasaan ortunya. Anak disayang2, dirawat, eh disiksa batur sampe meninggal..:-(

Krisna Muslim said...

Di kampus dipukulin terus... jadi waktu kuliah gak masuk deh ilmunya *udah puyeng dipukulin*.

Tiwi said...

Buenerrr sekali Ibu,... kekerasan dimanapun engga bawa hasil, palagi sampe mukul anak sendiri.
Seumur-umur belum pernah anakku tak jewer palagi tak pukul *semoga tidak akan pernah*, kami paling anti kekerasan....amit2....

btw, bubarin tuh sekolah, endak ndidik sama sekali!

GusKoko said...

Simak lagi lebih dalam, kasus penganiayaan yang dulu ; meninggalnya Praja Wahyu Hidayat, pelakunya malah bisa jadi PNS dan sampai sekarang belum dimasukan bui. Memang STPDN / IPDN betul2 sudah keterlaluan.

lierieh said...

Betul Mah, sama emaknya diemple2 biar bisa kuliah, biar bisa jadi org, ari sdh kuliah disiksa org, telengesss pisan eta org teh, Mah lam kenal, saya link ya, nuhun Mah